Ramadanku, Kok Beda?
Assalamu’alaykum
Bismilahirrahmanirrahim, Markhaban Yaa Ramadan 
Alhamdulillah, Ramadan kembali hadir diantara kita. Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya kita masih diberi kesempatan untuk menghirup sejuknya atmosfer bulan penuh hidayah ini. Tidak terasa ya, sudah hampir dua tahun saya menetap di kota Jogja. Kota yang penuh cerita, warna, duka, bahagia, prasangka, ah, segalanya!
Dua tahun berada disini, ini juga kali kedua saya menikmati manisnya berpuasa di Jogja. Tapi entah kenapa, euforia Ramadan kali ini jauh sekali gradasinya dengan Ramadan yang saya rasakan tahun lalu. Bahkan teramat jauh jika dibandingkan dengan Ramadan di kampung halaman saya. Kalau di rumah, beberapa minggu sebelum Ramadan benar-benar tiba, masyarakat sudah riuh ramai mempersiapkan kedatangan sang bulan yang dinanti. Toko-toko sudah persiapan sirup berdus-dus, pedagang-pedagang berjejer manis di sepanjang jalan, ibu-ibu sudah itung-itungan kue lebaran, anak-anak sudah ancang-ancang strategi penyalaan mercon, tidak ketinggalan juga, bapak-bapak juga sudah sibuk ngomongin klub kesayangannya yang tidak kunjung juara, hehe. Eh, tapi beneran lho! Rasanya Ramadan di kampung halaman itu benar-benar ramai. Saat saya masih madrasah dinniyah, sepulang sekolah sekitar jam setengah lima sore, saya langsung ngaji sampai magrib tiba. Setelah berbuka dan menunaikan ibadah, saya masih ngaji hingga isya’ tiba. Selepas tarawih, kami biasanya langsung pulang dan ngaji lagi. Kalau sedang malas, cukup duduk manis di depan rumah melihat warna-warni langit yang ditaburi mercon dari anak-anak tetangga. Suara tadarusanpun terdengar merdu saling bersahutan dari toa-toa surau. Ramai, damai, dan terasa mengesankan. Kita benar-benar diajak masuk di dalam nuansa Ramadan. Bahkan, bagi yang tidak meraup pundi-pundi pahala Ramadanpun ikut andil meramaikan dengan adanya pasar malam hingga menjelang lebaran. Jalanan juga penuh sesak dengan kendaraan yang lalu lalang. Pokoknya ramai deh!
Nuansa satu tahun yang lalu juga demikian. Entah karena saya masih mahasiswa baru atau bagaimana, rasanya tahun lalu semangat sekali menyambut Ramadan. Tiap hari pinginnya salat tarawih di tempat yang beda-beda. Sudah merasakan salat di gelanggang UGM, masjid Mardliyah, masjid deket kos, masjid agak jauh dari kos, di tempat bukber, di Masjid Kampus UGM, dan masih banyak lagi eksplorasi masjid dan takjil, hehe. Namun Ramadan kali ini, rasanya berbeda. Bahkan kapan puasa pun saya tidak tahu. Rasanya kok Jogja adem-adem aja. Tidak ada yang heboh-heboh Ramadan, broadcast kata-kata bijak tidak bertebaran, kondisi masjid juga masih sepi seperti hari-hari setelah lebaran yang mulai ditinggalkan. Saking tidak tahunya, saya sampai tanya di grup angkatan, “Bukannya puasa masih minggu depan?” soalnya Jogja sepi banget sih...
Saat Ramadan telah tiba, Jogja juga masih dilanda sepi yang abadi. Benar-benar beda rasanya! Bahkan, ingin mengajak teman salat tarawih di masjid kampus saja susahnya luar biasa. Alasannya ini-itu tak terhitung jumlahnya. Saking sepinya, rasa malas akhirnya menang telak menggerogoti iman saya. Mau ngaji, ah nanti-nanti saja. Mau ibadah, ah waktunya masih banyak. Mau mulai yang sunnah-sunnah, entar dulu deh. Padahal tahun lalu, semangat empat-lima untuk ibadah. Rasanya sedih sekali ketinggalan dakwah di Maskam. Rasanya menyesal sekali tidak ikut kajian ini-itu. Kalau sekarang? Kok saya jadi begini?
Tahun lalu, hidayah terasa melimpah dan ringan untuk digapai. Pada suatu sore di Maskam UGM, saya melihat segerombolan Mbak-mbak RK duduk melingkar di depan maskam menunggu adzan Magrib. Sumpah, malu sekali melihat hijab mereka yang super lebar dengan wajah yang super teduh. Malu, malu, sangat malu. Sampai-sampai saya menangis dibuatnya. Malu melihat diri sendiri yang masih begini-begini saja. Waktu diantara salat Magrib dan menunggu Isya’ adalah favorit saya. Masjid sebesar Masjid Kampus UGM menggema lantunan ayat suci Al-Quran yang tiada henti-hentinya. Salat yang memang agak lama dari tempat lain juga terasa damai. Banyaknya jamaah yang hadir membuat segalanya terasa lebih ringan dan menyenangkan. Duh, rindu!
Beda yang mencolok dari tahun lalu, dulu saya sangat sering melewatkan makan sahur. Sudah menghidupkan sepuluh alarmpun rasanya tubuh ini bagaikan kebo, sama sekali nggak terdengar! Tapi tahun ini, mungkin karena keseringan tidur jam tiga pagi, tubuh rasanya malah bagaikan alarm itu sendiri. Otomatis bangun! Hehe. Ditambah lagi, awal Ramadan bebarengan dengan hari pertama UAS. Duh, rasanya... rasanya apa? Ya bahagialah! 
Nah, Ramadan tinggal 3 minggu lagi. Minggu ini jadikan sebuah evaluasi untuk memperbaiki diri. Pahala itu tidak terlihat, dosa itu tidak terlihat, hidayah juga tidak terlihat. Dunia terlihat ramai, tapi pahal tak kunjung datang, bisa juga. Dunia terasa sepi tak berpenghuni, tapi justru pahala terguyur tiada henti, pun bisa juga. Jadi intinya, Emma, jangan terlalu banyak alasan. Ibadah itu urusanmu dengan Tuhanmu. Jangan terlalu banyak request, toh kalau mati mendadak juga tidak bisa request mau kapan dan dimana. Mati mendadak juga tidak bisa request sedang di tengah riuh keramaian atau sedang sunyi sendiri. Ya sudah yuk! Muhasabah dan berbenah. Pertebal iman hingga Idul Fitri menjelang.
Siyamana wa siyamakum
Wassalamu’alaykum

0 comments