SIMULTAN UGM 2016

by - 9/11/2017 10:47:00 PM



Bismillahirrahmanirrahim...
Sebelum saya mulai bercerita, ada sebuah kutipan yang menarik dari Confucius untuk mengawali tulisan di pagi yang hangat ini, "A journey of a thousand miles begins with a single step." Kutipan tersebut menjelaskan bahwa sejauh apapun sebuah perjuangan, awalnya hanyalah sebuah langkah kecil dengan niat tulus di dalamnya.
Teman-teman yang sangat saya cintai, saya tahu sekarang kita adalah orang-orang hebat yang kelak akan menjadi jauh lebih hebat. Kita mempunyai jutaan impian yang begitu tinggi mengalahkan tingginya langit itu sendiri. Kita mempunyai ribuan harapan yang kemudian berguguran menjadi kenyataan. Tapi terkadang kita lupa lho teman! Mimpi dan harapan kita yang begitu luar biasa tersebut awalnya hanya sebuah percikan mimpi-mimpi kecil yang kemudian membanjir dan menjadi laut seutuhnya. Sejatinya kita tidak pernah manusia yang tiba-tiba melesat meraksasa. Semua diawali dengan hal-hal kecil yang perlahan menjadi gumpalan-gumpalan kejadian luar biasa.
Nah, dari hal itulah saya akan bercerita mengenai petualangan menarik dari Gadjah Mada Jepara atau yang biasa disebut Gamara.
Sebagai seorang pemuda khususnya mahasiswa, setidaknya pasti pernah terbesit di pikiran kita untuk melakukan sesuatu bagi kebermanfaatan banyak orang. Ketika kita ditanya, "Apa yang akan kamu lakukan ketika sudah lulus nanti?" Sedikit merenung-renung, kebanyakan akan menjawab begitu banyak teori dengan ujung 'Akan kembali ke daerah untuk membangun daerah'. Kita akan bercerita begitu banyak hal yang 'nanti' akan kita lakukan. Membangun sumber daya raksasa, mendirikan jutaan sekolah, mengabdi sebagai seorang sarjana dan mengaplikasikan apa yang telah kita pelajari, atau masih banyak angan-angan hebat lainnya. Eh, tapi pernahkah kita membayangkan, jika saya terus-terusan 'Akan melakukan nanti, nanti dan nanti' apakah umur saya akan sampai pada waktu yang di-'nanti?'. Ketika kita berpikir akan melakukannya 'besok saja', apakah sehat dan sempat kita akan sampai pada 'besok?'. Hm... Itu kita berbicara mengenai harapan, bagaimana kalau kita berbicara mengenai kenyataan, apakah kita sudah bisa menjawab jika ditanya, "Kamu sudah melakukan apa?" Jika jawabannya iya, Alhamdulillah. Namun jika kita tiba-tiba terdiam, yuk instropeksi diri 
Pada awal Januari lalu, kami (Gamara) sudah memulai aktivitas kami untuk menyebar surat izin sosialisasi ke beberapa sekolah se-Kabupaten Jepara. Kami dibagi kebeberapa tim agar mempermudah penyebaran surat. Mulai Senin, 11 Januari 2016 kami datang ke SMA N 1 Nalumsari. Tidak banyak yang datang, tetapi cukup mengesankan. Hari demi hari berlalu. Personil kami kian fluktuatif dan variatif. Di hari ini si A datang, besoknya si B yang datang, hari berikutnya si C yang datang. Selalu begitu, sehingga perjalanan kami punya cerita. Dari rumah saya, SMA N 1 Nalumsari sekitar 4 km. Sedangkan perjalanan terjauh adalah SMA N 1 Donorojo sekitar 80 km, lebih jauh malah jika dibanding perjalanan ke tempat kelahiran saya, Semarang.
Kami mengunjungi SMA N 1 Nalumsari, SMA AL-Hikmah, SMA N 1 Mayong, SMA Al-Falah, MA Darul Ulum, SMA Masehi, SMA N 1 Jepara, SMA N 1 Tahunan, MA Matholibul Huda, SMA N 1 Kembang, SMA N 1 Bangsri, dan SMA N 1 Bangsri. Banyak bukan? Tapi lebih banyak surat yang telah yang kami kirim.
Begitu menyenangkan bisa menjelaskan betapa hebat, luas, ternama, alumni seorang presiden, dan masih banyak lagi kepada adik-adik di sekolah yang sangat kepo dengan kampus kami ini. Tetapi jauh lebih menyenangkan bercerita bahwa di kampus yang besar ini, kami hanyalah manusia yang makan apa adanya, tempat tinggal dan gaya hidup yang biasa-biasa saja, kehidupan kampus yang ramah dan agamis, dan hal-hal yang intinya mengajak mereka untuk sekedar 'kuliah'. Keren memang datang ke sekolah ternama yang sudah tahu siapa kami dan tapi perlu lagi kami menyombongkan diri. Tapi sungguh keren datang ke sekolah yang biasa-biasa saja, yang para siswanya menghiraukan kedatangan kami dan acuh atas kami. Begitu menarik karena setelah kami bercerita panjang lebar, mereka kemudian terdiam dan justru antusias ingin menjadi bagian dari kami.
Teman-temanku yang tercinta, sebagai mahasiswa, menurut saya kita sudah lebih dari sekedar siap untuk memulai membangun masyarakat. Meski belum bisa membuat perubahan besar-besaran, memberikan sedikit dedikasi kita untuk masyarakat merupakan hal yang teramat luar biasa. Setahun lalu, saya dan rekan-rekan Gamara menyambangi sekolah-sekolah di seluruh penjuru Jepara. Jawaban mereka beragam, ada yang sudah kepingin masuk kampus-kampus favorit, ada yang sudah menyiapakan diri untuk tes, belajar mati-matian untuk menggapai nilai rapor dan lain sebagainya. Namun ada hal yang sangat fantastis saat kami mendengar ada anak-anak di sekolah-sekolah kecamatan yang tidak tahu apa itu SNMPTN, SBMPTN bahkan bidikmisi. Seketika hati kami terisis, bagaimana bisa kami membuat jutaan status untuk memperbaiki daerah, beropini disana-sini untuk membangun kesejahteraan masyarakat, mengikrarkan diri menjadi seorang aktivis dan lain sebagainya, sedangkan ‘tonggone dewe’ (tetangga sendiri) tidak mampu mengenyam pendidikan lebih tinggi saja kita tidak tahu menahu. Kita seolah pura-pura tuli dan acuh tentang keadaan yang teramat dekat dengan kita sendiri.
Di kampus Gadjah Mada yang begitu hebat ini, saya sering mendengar jutaan nama yang digadang-gadang menjadi seorang ‘aktivis’ tapi saya belum pernah sekalipun mendengar sosok yang tidak hanya aktif membenahi kampusnya saja, tapi juga merasa ‘iba’ kepada tetangganya yang tidak sanggup makan, kehilangan ladang pekerjaan, pemuda desa yang tiap tahun harus transmigrasi kesana-kemari, anak-anak yang putus sekolah, dan masih banyak lagi problema yang begitu dekat dengan tanah dimana ari-ari kita dikuburkan.
Salah satu hal yang membuat hati kami kian teriris, ketika ada beberapa anak yang ingin sekali melanjutkan pendidikan, tapi kebanyakan dari mereka takut menghadapi kerasnya kehidupan kampus yang begitu mentereng di depan layar kaca televisi. Disana digambarkan kebanyakan mahasiswa menggunakan mobil-mobil mewah, perlengkapan kuliah yang high-class, kehidupan ala selebritis dan masih banyak lagi. Sedangkan kami? Anak-anak petani yang hidup di pesisir pulau Jawa hanya bisa apa?
Tanggal 31 Januari lalu, Gamara menyelenggarakan Try Out SBMPTN pertama yang ada di kota kami, Jepara. Try Out nasional yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi mahasiswa daerah UGM yang disebut SIMULTAN. Tujuan kami sederhana, kami ingin sekali mengajak adik-adik kami, tetangga-tetangga rumah kami, anak-anak para petani di desa kami, dan seluruh anak-anak di penjuru Jepara untuk tetap memegang teguh mimpinya untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Miris teman-teman, rata-rata remaja di daerah kami hanya menamatkan pendidikan tertingginya di bangku SMA. Alasannya klasik, dan segalanya alasan tersebut bermuara kepada uang, uang dan uang. Ya, kami memang bukan pemerintah yang sanggup membiayai mereka, tapi setidaknya kami mencoba untuk tetap menghidupkan mimpi-mimpi mereka sampai mereka benar-benar mampu meraihnya.
Teman-teman tercinta, kamu tahu? Setelah kami selesai sosialisasi dan menyelenggarakan Try Out? Perasaan kami tiap hari hanya dibanjiri perasaan bahagia. Mengapa? Banyak adik-adik yang kemudian membombardir akun-akun kami untuk menjelaskan permasalahan mereka untuk memasuki dunia perkualiahan. Kami tiba-tiba menjadi seorang konsultan dadakan. Meski kami tidak sepenuhnya bisa memecahkan permasalahan mereka, tapi dari sana kami melihat bahwa kehadiran kami ternyata berarti bagi mereka.
Tahun 2015, lebih dari dua puluh mahasiswa baru dari Jepara diterima di Universitas Gadjah Mada. Meski tak semuanya dengan rela bergabung kepada dengan Gadjah Mada Jepara, setidaknya semakin banyak putra-putri Jepara yang sudah begitu luar biasa berada disini. Kami berharap semakin tahun, jumlah kami semakin meni ngkat. Kebermanfaatan yang kami tebar semakin meluas. Harapan-harapan yang kami bentangkan semakin meninggi. Serta perubahan-perubahan positif yang kami lakukan bisa diterima disetiap hati masyarakat.
Terima kasih kepada orang tua kami yang merelakan anak-anaknya berkeliaran semasa liburan semester. Pak, Buk, kami janji amal yang kami lakukan sekarang kami dedikasikan untukmu sebagai ganjaran anak soleh dan solekhah. Terima kasih kepada para alumni Keluarga Alumni Gadjah Mada Jepara atas sumbangsihnya yang begitu besar membersamai adik-adiknya dalam perjalanan kami yang panjang ini. Terima kasih kepada segala pihak dan seluruh warga Jepara yang kami yakin punya niat dan cita-cita yang sama untuk membuat tanah kelahiran Kartini ini menjadi hebat seutuhnya. Serta terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh anggota Gadjah Mada Jepara yang dengan ikhlas mengabdikan dirinya dan melempar rasa lelahnya jauh-jauh demi membangun kota kecil ini. Terima kasih, terima kasih dan terima kasih yang teramat dalam.
Maaf, agak menyindir. Bagi kamu yang mengaku seorang aktivis, mahasiswa berprestasi, anak sibuk yang terlihat begitu hebat di kampus, tapi kamu tidak punya ‘kepedulian’ untuk memperbaiki tempat tinggalmu sendiri, maaf, anak yang IPKnya 1,5 tapi peduli itu jauh lebih baik darimu. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jika kamu mampu terlihat hebat dipandangan banyak orang, kenapa terlihat hebat bagi orang-orang sekitarmu saja kamu tidak mampu?
“Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi.” Pahlawan dari Jepara, R.A Kartini, 4 September 1901.
Saya yakin, begitu banyak bibit-bibit hebat berasal dari Jepara dan semoga seluruh dari kalian mempunyai harapan yang sama untuk membangun Jepara. Untuk adik-adik kami, kakak-kakak tunggu di UGM ya! Tetap semangat!
10 Februari 2016, di atas kereta dari stasiun Tawang menuju stasiun Solo Balapan
Salam hangat,
Ketua Pelaksana SIMULTAN Jepara 2016
Emma Afifah

You May Also Like

0 comments