Andai Pemimpin seperti Imam Masjid
"Amanah adalah seberat-beratnya perkara"Kita analogikan kepemimpinan seseorang dalam mengemban amanah seperti seorang imam di masjid. Sering kali, ketika hendak melaksanakan salat, kita sering berdebat siapa yang akan menjadi imam. Si muda berkata, “Anda saja, saya menghormati yang lebih tua.” Sedangkan yang lebih tua berkata, “Anda saja, bacaan saya kurang bagus.” Dari pernyataan ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa si muda merasa belum pantas karena ia menganggap ada yang lebih berpengelaman daripada dirinya, sedangkan yang tua beranggapan bahwa ia merasa tidak pantas karena kemampuannya tidak mumpuni. Ketika salat, saat imam melakukan kesalahan, makmum diperbolehkan untuk mengingatkan imam, bahkan wajib hukumnya jika kesalahannya fatal dan memang perlu untuk diingatkan. Posisi imam juga berbeda dengan makmum. Imam salat berada di depan barisan. Biasanya, imam selalu mendapat hak-hak lebih. Seperti sajadah yang lebih tebal, lebih harum, tempat yang lebih luas. Bahkan dalam salat, jarang atau tidak pernah orang-orang berebut untuk menjadi imam. Yang bacaannya bagus seringkali merasa masih perlu banyak latihan. Yang pengetahuannya lebih luas, sering kali merasa masih perlu banyak belajar. Yang usianya lebih tua, merasa masih kurang dalam pengetahuan. Sehingga setiap orang saling mempersilakan satu sama lain. Ditambah lagi, amanah berat yang harus ditanggung sang imam. Kalau bacaan sang imam salah, gerakannya keliru, ada makmum yang melakukan kesalahan dan masih banyak lagi. Analogi ini bisa kita kaitkan dengan kepemimpinan dalam bidang apa saja. Yang namanya pemimpin, ialah ia yang mengemban amanah. Andai saja para anggota DPR, kepala daerah, ketua organisasi, dan para pemimpin lainnya bertindak seakan-akan ia akan menjadi imam masjid. Ia akan berpikir berulang kali ketika ingin mencalonkan dirinya sendiri. Masih merasa belum pantas, belum memiliki kapabilitas yang cukup, masih kurang pengetahuan, sehingga masih merasa rendah hati untuk selalu berbenah diri bahwa diri ini masih perlu banyak belajar. Begitupun ketika sedang memimpin, makmum diibaratkan sebagai rakyat. Seorang pemimpin tidak boleh tuli atas nasihat orang lain. Rakyat diperbolehkan mengingatkan sang pemimpin ketika ada kekeliuran, bahkan dianjurkan ketika jika didiamkan justru membawa keburukan. Pemimpin juga seringkali mendapat hak istimewa. Mendapat tunjangan disana-sini, mendapat fasilitas lebih, dan banyak kelebihan lain. Seandainya para pemimpin bertindak seperti imam. Yang harus senantiasa memperbaiki bacaan, senantiasa belajar agama lebih, dan bertindak sebaik mungkin bagi makmumnya. Begitu juga dengan pemimpin, yang harus banyak menambah pengetahuan, memperbaiki kinerja tiap waktu, selalu berusaha menjadi tauladan bagi kaum yang dipimpin. Andai saja, pemimpin lagi-lagi mencontoh imam masjid. Yang selalu memikirkan amanah dan takut dosa jika berbuat kesalahan. Karena amanahnya langsung dipertanggungjawabkan kepada sang pencipta. Sehingga ia harus bertindak sebaik mungkin semampunya. Begitu juga pemimpin-pemimpin Indonesia saat ini. Harusnya mereka mencontoh imam di masjid. Senantiasa tawadhu’ dan teringat akan amanah yang berat, bukan justru terlena dengan jabatan dan amanah yang diemban.
0 comments