Benarkah Kita Kaya?
Hari ini, untuk kesekian kalinya, aku dan beberapa teman kembali menyambangi desa. Meluangkan waktu untuk mengajar ngaji adik-adik di dukuh Kiyaran dan Plagrak, Wukirsari, Cangkringan, Sleman.
.
Memberdayakan masyarakat. Itu tujuan utama kami. Tapi, terlepas dari itu, banyak sekali problematika dan haru bahagia juga mengiringi perjalanan pengabdian kami. Lagi-lagi, bukan karena menunggu waktu luang. Melainkan, meluangkan waktu. Ya, kami meluangkan waktu dari penatnya aktivitas kami. Kami rehat sejenak. Menelisik kembali. Sebenarnya untuk apa ilmu yang sekarang kami tempuh? Agar bisa keren sajakah? Agar mendapat jabatan yang diidamkankah? Atau jawaban-jawaban klise yang lain. Jika hanya sebatas untuk "diri sendiri", mari mukhasabah niat kita. Namun, jika jawabanmu untuk memberdayakan masyarakat, mampu menebar kebermanfaatan, mampu menciptakan sesuatu yang dapat mengubah peradaban, atau lebih lebih kamu niatkan ilmumu sebagai amal jariyah, maka, selamat! Mahasiswa berembel-embel aktivis, kontributif, prestatif atau apalah itu, harusnya seperti kamu!
.
Menarik, ini bukan kali pertama aku berkunjung ke rumah Bu Kris dan Pak Dibyo, salah satu warga di desa Wukirsari. Setiap disana, kami selalu dijamu hasil kebun yang melimpah ruah. Buah-buahan, sayur-sayuran, beras dan beberapa hasil panen yang mereka miliki selalu membuatku termenung iri.
.
Sebagai anak dari orang tua yang tidak punya lahan, selama ini segala kebutuhanku serba beli. Ingin makan buah, aku beli. Ingin makan sayur, aku beli. Ingin memasak, rempah-rempah aku beli. Butuh beras, haha jangan ditanya, aku pasti beli. Sedangkan mereka? (Bu Kris dan Pak Dibyo) aku merasa mereka teramat kaya. Bukan karena saham, tabungan, emas, atau dollar yang mereka miliki. Tapi bagiku, kesejahteraan adalah ketika mereka mampu selesai dengan urusan perutnya dan mampu mencukupi kebutuhan yang lain sesuai standard mereka. Itu yang membuat mereka terlihat kaya di mataku. Mereka berkecukupan. Bukan karena mobil mewah, rumah megah, duit yang melimpah ruah, toh mereka tidah terlalu butuh. Tapi kaya dalam keserdahanaannya. Aku iri. Ketika mereka ingin ini itu tinggal panen. Sedang aku? Apa-apa harus beli. Bagiku, mereka sungguh teramat kaya. Beruntunglah... Bersyukurlah...
.
Kalau kamu lelah dengan urusanmu, yuk rehat sejenak. Mari kita menengok di desa. Sebentar saja, supaya kamu tahu, bahagia dan syukur itu bagiamana. ![]()
0 comments