Sebongkah Cinta untuk Rumah Kepemimpinan
Menjadi
bagian dari orang-orang hebat di Rumah Kepemimpinan merupakan hal yang luar
biasa. Terlebih sekarang aku telah menjadi bagian dari mereka. Namun, rasanya
aku masih belum pantas berada disini. Mungkin aku adalah orang yang paling
tidak ada apa-apanya dan biasa-biasa saja jika dibanding rekan-rekanku disini.
Tapi, aku tidak pernah tahu bagaimana rencana Allah untukku.
Awal
memasuki Rumah Kepemimpinan aku tersadar, IPKku hanya pas-pasan dan mepet
sekali dengan batas minimum penerimaan. Prestasiku biasa-biasa saja. Aku juga
bukan orang yang begitu mentereng di kampus. Aku juga bukan pengurus organisasi
yang mendapat jabatan yang gemilang. Aku bukan seorang entreprenur yang sukses.
Aku bahkan tidak punya komunitas dan gerakan-gerakan yang mengudara layaknya
yang teman-temanku telah lakukan. Yang aku tahu hanya satu, aku adalah pemimpi.
Aku punya jutaan mimpi yang terkadang aku sendiri takut dibuatnya. Bahkan,
sering kali aku menamai akun-akunku sebagai “Dreamer atau awesomedreamer” Haha.
ya! Pemimpi... Bahkan aku dan teman-temanku tergabung dalam sebuah grup bernama
Nefelibata.
“Cloud-walker”;
one who lives in the clouds of their own imagination or dreams, or one who
doesn’t obey the conventions of society, literature, or art. (Nefelibata)
Selama
dua bulan aku dibina disini, yang aku rasakan adalah bahagia, bahagia dan
bahagia. Aku tidak tahu ungkapan apa yang harus aku katakan selain bahagia.
Dulu aku adalah anak yang nakal. Aku tidak pernah mau masuk pesantren karena
bagiku pesantren itu adalah hal yang menyebalkan. Kita akan terus-terusan di
jejali ilmu agama dan nihil tentang ilmu keduniaan. Sampai pada akhirnya, aku
tersadar bahwa syaitan telah menggerogoti pikiranku. Aku telah salah. Akhirnya
aku memutuskan untuk memasuki pesantren atau masuk di Rumah Kepemimpinan di
tahun ketigaku. Sekarang, disinilah aku. Menjadi salah satu peserta Rumah
Kepemimpinan.
Disini
aku belajar banyak hal. Aku pikir, dulu belajar agama itu menyeramkan ketika
kita harus dibangunkan jam 3 pagi hanya untuk salat dan melakukan ibadah.
Terlebih banyak sekali agenda padat yang membatasi kegiatan rutinku. Padahal
tugas kampusku masih menumpuk. Organisasiku masih berantakan. Waktu bersama
teman, pekerjaan dan masih banyak lagi hal-hal remeh-temeh yang aku risaukan.
Disini
justru pikiranku dikupas tuntas! Ternyata agama tidaklah sekolot dan
semenyeramkan yang aku pikirkan. Tiap hari harus dibangunkan jam setengah 4
pagi untuk Qiyamul Lail berjamaah, salat subuh berjamaah, membaca al-ma’surat bersama-sama.
Tapi entah kenapa, segala kegiatan tersebut menjadi menyenangkan. Aku mulai
paham dengan apa yang disebut “pemaknaan”. Ternyata, hal-hal yang aku takutkan
dulu, karena aku tidak pernah sadar. Aku tidak pernah paham untuk apa hal-hal
tersebut kulakukan. Namun sekarang, aku sangat bahagia saat aku terbangun,
orang-orang pertama yang aku lihat adalah teman-teman asramaku. Saat aku
kelelahan, saat aku sedih, saat aku begitu banyak pekerjaan, merekalah
orang-orang pertama yang aku lihat. Bahkan aku tidak pernah mengantuk ketika
waktu berkah subuh. Karena aku sangat ingin melihat teman-temanku di setiap
awal hariku setiap harinya.
Tiap
hari, kami harus pulang maksimal jam 7 malam. Padahal banyak dari kami yang
merupakan kepala organisasi, orang-orang dengan agenda padat di kampus dan
segala rutinitas lainnya. Tapi, mengapa kami diwajibkan pulang maksimal jam 7
malam? Lagi-lagi aku belajar tentang pemaknaan. Pulang lebih cepat membuatku
harus menyelesaikan urusanku di kampus dengan lebih efisien, aku jadi belajar
membagi waktuku dengan lebih optimal. Namun, aku sangat mengapresiasi bagaimana
supervisorku memperbolehkan kami pulang larut karena urusan akademik.
Agenda
yang padat dan runtutnya kegiatan di asrama bagiku adalah hal yang
menyenangkan. Rasanya, dulu sangat menyedihkan ketika aku terus-terusan
mengajak temanku datang kajian tetapi mereka menolak. Rasanya sedih sekali
ketika pergi ke majlis ilmu sendirian. Tapi disini, segalanya terfasilitasi.
Kami tidak perlu lagi repot-repot menjemput ilmu. Melainkan ilmulah yang
menjemput kami. Meski terkadang, aku merasa lelah dan malas menjalani kegiatan
di asarama. Tapi lagi-lagi, teman-temanku membuatku malu jika aku terus-terusan
bermalas-malasan sedangkan mereka tengah sibuk mempersiapkan masa depan.
If
you fail, never give up because FAIL means First Attempt In Learning. End it’s
not the end, if fact END means Effort Never Dies. If you get No as an answer,
remember NO means Next Opportunity (Abdul Kalam)
Selain
agenda asrama, disini aku juga sangat bahagia karena disinilah aku bisa
mengikuti apel rutin. Aku sangat menyukai hal-hal kemiliteran. Salah satunya
adalah upacara. Salah satu hal yang membuatku dapat menghargai jasa-jasa
pahlawanku adalah dengan upacara. Bagiku, upacara adalah hal yang sakral dan
entah kenapa setiap apel asrama merupakan hal yang menyenangkan. Aku pernah
melewatkan apel asrama ketika aku sedang sakit, dan disaat itu aku benar-benar
merasa menyesal. Salah satu hal yang aku cintai telah aku lewatkan begitu
saja...
Setiap
hari, sebelum dan sepulang kepergianku dari kampus. Aku selalu menimbang berat
badanku. Aku sangat ingin menunjukkan kepada setiap orang bahwa, hey! Aku anak
Rumah Kepemimpinan. Berat badanku tidak akan turun karena hal-hal mengerikan
yang orang lain bayangkan. Haha.
Hal
luar biasa disini yang membuatku selalu merasa malu setiap harinya adalah
sering kali aku mendengar bahwa si A memenangkan perlombaan, si B telah
berhasil lolos exchange, si C tulisannya telah disebar dan memberi manfaat oleh
jutaan orang, si D yang begitu berprestasi dan luar biasa di kampus. Sedangkan
aku? Aku bukanlah apa-apa. Bahkan aku belum bisa minimal seperti mereka. Aku
masih tetap biasa-biasa saja. Sehingga itu menjadi tamparan keras untukku untuk
bisa menjadi seperti mereka.
Setiap
malam, aku tidur sekitar setengah 3 sampai 3 pagi. Aku malu. Aku malu menjadi
orang yang terus-terusan bukan apa-apa. Untuk itulah aku harus bekerja lebih
keras daripada teman-temanku. Agar aku bisa seperti mereka. Itulah kenapa
ketika ada waktu senggang aku selalu memanfaatkan untuk tidur. Karena disitulah
waktu istirahatku.
Namun,
karena hal tersebut aku justru melalaikan hak-hak yang harusnya aku berikan
untuk tubuhku. Aku sering kali menunda-nunda waktu makanku. Mengurangi jatah
tidurku. Mereduksi waktu istirahatku. Tanpa kusadari aku telah dzalim terhadap
diriku sendiri. Kekurangan terbesarku adalah aku tipikal workaholic tetapi aku
tidak ingat bahwa yang membuatku dapat melakukan seluruh kegiatanku justru
adalah bantuan dari tubuhkku.
Sekali
lagi, aku bahagia berada disini. Aku tidak pernah ingin sakit dan melewatkan
program. Aku merasa dzalim ketika uang umat yang aku pakai justru aku lalaikan
karena aku harus terbaring sakit. Aku merasa sangat menyesalkan ketika aku
tidak bisa melakukan segalanya sesuai yang aku bisa.
Hidup itu
bagaikan angka biner. Angka 1 dan 0. Hanya ada salah dan benar. Dunia hanya
akan melihat apa yang telah kita lakukan. Dunia tidak akan pernah memahami apa
saja yang sebenarnya telah kita lewati. Hanya ada salah dan benar. Begitu juga denganku,
disini setiap aku melakukan kesalahan, aku justru kebingungan mencari alasan
kenapa aku berbuat salah. Karena bagiku salah itu salah. Sedangkan benar adalah
benar. Menurutku, asalan adalah hal klise dibalik sebuah kesalahan sehingga aku
lebih memilih mengakui kesalahan daripada memberikan alasan atas kesalahanku.
Bagiku,
teman-temanku disini adalah anugrah. Aku tahu teman-temanku semua adalah orang
dengan berbagai kegiataan yang memenatkan. Orang-orang hebat dengan berbagai
rutinitas yang begitu memberatkan pundak. Untuk itulah aku disini. Jika kamu
bertanya apa yang ingin aku lakukan di Rumah Kepemimpinan? Aku tidak akan
menjawab aku ingin membuat komunitas, aku ingin melakukan menjadi mahasiswa
berprestasi, aku ingin menjadi menjadi ketua organisasi atau hal-hal lain yang
semacamnya. Aku tidak akan pernah mengatakan itu semua. Hal yang ingin sekali
aku lakukan disini adalah membahagiakan ke-30 orang luar biasa di asrama ini.
Aku ingin sekali menjadi penggugur kelelahan teman-temanku. Pewarna hari-hari
teman-temanku, serta menjadi tempat terbaik ketika teman-temanku sedang
mendapat masalah. Karena aku tahu, menjadi pemimpin yang begitu mengerti umat
bukanlah hal yang mudah. Sehingga aku harus menjadi pundak bagi calon
pemimpin-pemimpin luar biasa tersebut.
Terkadang
aku sedih ketika mendengar kisah teman-temanku yang dianggap tidak kompeten di
organisasi atau hal lain karena harus pulang lebih cepat atau tidak bisa selalu
membersamai. Sungguh, kami telah melakukan hal terbaik yang kami bisa. Kami sudah
berusaha semaksimal mungkin untuk selalu ada, untuk selalu berkontribusi.
Disini aku belajar bahwa ternyata banyak orang yang menilai banyaknya
kontribusi itu dilihat dari porsi. Padahal, kami selalu berjuang untuk selalu
ada meski kami tidak bisa selalu ada untuk membersamai.
Terima
kasih banyak untuk ke-29 sahabat sampai surga yang luar biasa, serta seorang
supervisor yang lebih dari sekedar luar biasa. Terus ajari aku dan bimbing aku
untuk menjadi pribadi luar biasa seperti teman-teman. Ajari aku menajadi lebih
berguna dan mampu membuat perubahan untuk kehidupan umat. Aku ingin sekali
menjadi Hafidzah seperti Rosyda. Mengabdikan diri untuk mendidik karakter
anak-anak seperti Kak Fadhil. Bergelut penuh terhadap masalah orang lain dan
menjadi advokat luar biasa seperti Awe. Menjadi pribadi yang begitu kritis dan
kuat seperti Caca. Seseorang yang penyabar dan suka membantu seperti Ulfa.
Orang yang begitu tangguh seperti Kak Afifah. Penyabar dan sebaik hati Kak Upi.
Serajin dan sebaik Fitri. Seceria dan seapa-adanya Kak Una. Menginspirasi dan
pantang menyerah seperti Rere. Unik dan menjadi pribadi yang berbeda seperti
Muthia. Secerdas dan seanggun Awwal. Berani, menakjubkan dan begitu cakap dalam
berbahasa seperti Kak Nurist. Periang dan selalu mendapatkan kesempatan ke luar
negeri seperti Kak Yauma. Dokter yang begitu rajin dan pantang menyerah seperti
Kak Izza. Seceria, apa-adanya dan menakjubkan seperti Nadiyah. Sabar, tenang
dan pekerja keras seperti Nining. Mampu memahai orang lain dan ikhlas membantu
seperti Ibu Lurah Fia. Sebersih dan serajin Kak Novi. Secantik dan semenarik
Kak Yara. Seanggun dan bisa berbaur dengan siapa saja seperti Kak Riyana.
Mempunyai banyak relasi seperti Annisa PS. Sejernih hatinya seperti Dwiani.
Seteguh agamanya dan sebaik akhlaqnya seperti Fatimah. Sevisioner dan mau
mengubah orang lain seperti Megandini. Secantik dan seprestatif Kak Kinan. Baik
hati dan selalu menolong orang lain seperti Kak Astuti. Sebaik hati dan seceria
Ayu. Kokoh dan mau ke luar dari zona nyaman seperti Iftin. Serta cakupan dari
ke-29 orang luar biasa seperti Kak Devi.
Aku
ingin Rumah Kepimpinan selalu membawa kebaikan-kebaikan untuk penghuninya dan
siapa saja yang berada di sekitarnya. Jangan pernah lelah berjuang teman-teman.
Mari kita bersama-sama mewujudkan impian dan harapan kita. Untuk mengubah
Indonesia menjadi lebih baik dan mertarbat serta menjujung tinggi kebaikan dari
Sang Maha Pemilik Segalanya.
Terakhir,...
Di hati telah tertanam cinta
Rela korbankan jiwa raga
Demi kehormatan dan cita
Tegakkan kejayaan bangsa
Meski jiwa gugur
Sebagai penebus
Tak akan goyahkan hati
Telah bulat tekad untuk berbakti
Mengemban misi bersih suci
Tanpa harap balasan jasa
Hanya ridho Allah semata
Rumah Kepemimpinan berjuang
Demi Indonesia mulia...
Semoga
hymne yang kita nyanyikan selama satu bulan di bulan Agustus benar-benar
mematri nurani kita untuk saling menguatkan satu sama lain.
0 comments