Sebongkah Cinta untuk Rumah Kepemimpinan

by - 10/01/2016 09:25:00 AM



Menjadi bagian dari orang-orang hebat di Rumah Kepemimpinan merupakan hal yang luar biasa. Terlebih sekarang aku telah menjadi bagian dari mereka. Namun, rasanya aku masih belum pantas berada disini. Mungkin aku adalah orang yang paling tidak ada apa-apanya dan biasa-biasa saja jika dibanding rekan-rekanku disini. Tapi, aku tidak pernah tahu bagaimana rencana Allah untukku.
Awal memasuki Rumah Kepemimpinan aku tersadar, IPKku hanya pas-pasan dan mepet sekali dengan batas minimum penerimaan. Prestasiku biasa-biasa saja. Aku juga bukan orang yang begitu mentereng di kampus. Aku juga bukan pengurus organisasi yang mendapat jabatan yang gemilang. Aku bukan seorang entreprenur yang sukses. Aku bahkan tidak punya komunitas dan gerakan-gerakan yang mengudara layaknya yang teman-temanku telah lakukan. Yang aku tahu hanya satu, aku adalah pemimpi. Aku punya jutaan mimpi yang terkadang aku sendiri takut dibuatnya. Bahkan, sering kali aku menamai akun-akunku sebagai “Dreamer atau awesomedreamer” Haha. ya! Pemimpi... Bahkan aku dan teman-temanku tergabung dalam sebuah grup bernama Nefelibata.

“Cloud-walker”; one who lives in the clouds of their own imagination or dreams, or one who doesn’t obey the conventions of society, literature, or art. (Nefelibata)

Selama dua bulan aku dibina disini, yang aku rasakan adalah bahagia, bahagia dan bahagia. Aku tidak tahu ungkapan apa yang harus aku katakan selain bahagia. Dulu aku adalah anak yang nakal. Aku tidak pernah mau masuk pesantren karena bagiku pesantren itu adalah hal yang menyebalkan. Kita akan terus-terusan di jejali ilmu agama dan nihil tentang ilmu keduniaan. Sampai pada akhirnya, aku tersadar bahwa syaitan telah menggerogoti pikiranku. Aku telah salah. Akhirnya aku memutuskan untuk memasuki pesantren atau masuk di Rumah Kepemimpinan di tahun ketigaku. Sekarang, disinilah aku. Menjadi salah satu peserta Rumah Kepemimpinan.
Disini aku belajar banyak hal. Aku pikir, dulu belajar agama itu menyeramkan ketika kita harus dibangunkan jam 3 pagi hanya untuk salat dan melakukan ibadah. Terlebih banyak sekali agenda padat yang membatasi kegiatan rutinku. Padahal tugas kampusku masih menumpuk. Organisasiku masih berantakan. Waktu bersama teman, pekerjaan dan masih banyak lagi hal-hal remeh-temeh yang aku risaukan.
Disini justru pikiranku dikupas tuntas! Ternyata agama tidaklah sekolot dan semenyeramkan yang aku pikirkan. Tiap hari harus dibangunkan jam setengah 4 pagi untuk Qiyamul Lail berjamaah, salat subuh berjamaah, membaca al-ma’surat bersama-sama. Tapi entah kenapa, segala kegiatan tersebut menjadi menyenangkan. Aku mulai paham dengan apa yang disebut “pemaknaan”. Ternyata, hal-hal yang aku takutkan dulu, karena aku tidak pernah sadar. Aku tidak pernah paham untuk apa hal-hal tersebut kulakukan. Namun sekarang, aku sangat bahagia saat aku terbangun, orang-orang pertama yang aku lihat adalah teman-teman asramaku. Saat aku kelelahan, saat aku sedih, saat aku begitu banyak pekerjaan, merekalah orang-orang pertama yang aku lihat. Bahkan aku tidak pernah mengantuk ketika waktu berkah subuh. Karena aku sangat ingin melihat teman-temanku di setiap awal hariku setiap harinya.
Tiap hari, kami harus pulang maksimal jam 7 malam. Padahal banyak dari kami yang merupakan kepala organisasi, orang-orang dengan agenda padat di kampus dan segala rutinitas lainnya. Tapi, mengapa kami diwajibkan pulang maksimal jam 7 malam? Lagi-lagi aku belajar tentang pemaknaan. Pulang lebih cepat membuatku harus menyelesaikan urusanku di kampus dengan lebih efisien, aku jadi belajar membagi waktuku dengan lebih optimal. Namun, aku sangat mengapresiasi bagaimana supervisorku memperbolehkan kami pulang larut karena urusan akademik.
Agenda yang padat dan runtutnya kegiatan di asrama bagiku adalah hal yang menyenangkan. Rasanya, dulu sangat menyedihkan ketika aku terus-terusan mengajak temanku datang kajian tetapi mereka menolak. Rasanya sedih sekali ketika pergi ke majlis ilmu sendirian. Tapi disini, segalanya terfasilitasi. Kami tidak perlu lagi repot-repot menjemput ilmu. Melainkan ilmulah yang menjemput kami. Meski terkadang, aku merasa lelah dan malas menjalani kegiatan di asarama. Tapi lagi-lagi, teman-temanku membuatku malu jika aku terus-terusan bermalas-malasan sedangkan mereka tengah sibuk mempersiapkan masa depan.

If you fail, never give up because FAIL means First Attempt In Learning. End it’s not the end, if fact END means Effort Never Dies. If you get No as an answer, remember NO means Next Opportunity (Abdul Kalam)

Selain agenda asrama, disini aku juga sangat bahagia karena disinilah aku bisa mengikuti apel rutin. Aku sangat menyukai hal-hal kemiliteran. Salah satunya adalah upacara. Salah satu hal yang membuatku dapat menghargai jasa-jasa pahlawanku adalah dengan upacara. Bagiku, upacara adalah hal yang sakral dan entah kenapa setiap apel asrama merupakan hal yang menyenangkan. Aku pernah melewatkan apel asrama ketika aku sedang sakit, dan disaat itu aku benar-benar merasa menyesal. Salah satu hal yang aku cintai telah aku lewatkan begitu saja...
Setiap hari, sebelum dan sepulang kepergianku dari kampus. Aku selalu menimbang berat badanku. Aku sangat ingin menunjukkan kepada setiap orang bahwa, hey! Aku anak Rumah Kepemimpinan. Berat badanku tidak akan turun karena hal-hal mengerikan yang orang lain bayangkan. Haha.
Hal luar biasa disini yang membuatku selalu merasa malu setiap harinya adalah sering kali aku mendengar bahwa si A memenangkan perlombaan, si B telah berhasil lolos exchange, si C tulisannya telah disebar dan memberi manfaat oleh jutaan orang, si D yang begitu berprestasi dan luar biasa di kampus. Sedangkan aku? Aku bukanlah apa-apa. Bahkan aku belum bisa minimal seperti mereka. Aku masih tetap biasa-biasa saja. Sehingga itu menjadi tamparan keras untukku untuk bisa menjadi seperti mereka.
Setiap malam, aku tidur sekitar setengah 3 sampai 3 pagi. Aku malu. Aku malu menjadi orang yang terus-terusan bukan apa-apa. Untuk itulah aku harus bekerja lebih keras daripada teman-temanku. Agar aku bisa seperti mereka. Itulah kenapa ketika ada waktu senggang aku selalu memanfaatkan untuk tidur. Karena disitulah waktu istirahatku.
Namun, karena hal tersebut aku justru melalaikan hak-hak yang harusnya aku berikan untuk tubuhku. Aku sering kali menunda-nunda waktu makanku. Mengurangi jatah tidurku. Mereduksi waktu istirahatku. Tanpa kusadari aku telah dzalim terhadap diriku sendiri. Kekurangan terbesarku adalah aku tipikal workaholic tetapi aku tidak ingat bahwa yang membuatku dapat melakukan seluruh kegiatanku justru adalah bantuan dari tubuhkku.
Sekali lagi, aku bahagia berada disini. Aku tidak pernah ingin sakit dan melewatkan program. Aku merasa dzalim ketika uang umat yang aku pakai justru aku lalaikan karena aku harus terbaring sakit. Aku merasa sangat menyesalkan ketika aku tidak bisa melakukan segalanya sesuai yang aku bisa.
Hidup itu bagaikan angka biner. Angka 1 dan 0. Hanya ada salah dan benar. Dunia hanya akan melihat apa yang telah kita lakukan. Dunia tidak akan pernah memahami apa saja yang sebenarnya telah kita lewati. Hanya ada salah dan benar. Begitu juga denganku, disini setiap aku melakukan kesalahan, aku justru kebingungan mencari alasan kenapa aku berbuat salah. Karena bagiku salah itu salah. Sedangkan benar adalah benar. Menurutku, asalan adalah hal klise dibalik sebuah kesalahan sehingga aku lebih memilih mengakui kesalahan daripada memberikan alasan atas kesalahanku.
Bagiku, teman-temanku disini adalah anugrah. Aku tahu teman-temanku semua adalah orang dengan berbagai kegiataan yang memenatkan. Orang-orang hebat dengan berbagai rutinitas yang begitu memberatkan pundak. Untuk itulah aku disini. Jika kamu bertanya apa yang ingin aku lakukan di Rumah Kepemimpinan? Aku tidak akan menjawab aku ingin membuat komunitas, aku ingin melakukan menjadi mahasiswa berprestasi, aku ingin menjadi menjadi ketua organisasi atau hal-hal lain yang semacamnya. Aku tidak akan pernah mengatakan itu semua. Hal yang ingin sekali aku lakukan disini adalah membahagiakan ke-30 orang luar biasa di asrama ini. Aku ingin sekali menjadi penggugur kelelahan teman-temanku. Pewarna hari-hari teman-temanku, serta menjadi tempat terbaik ketika teman-temanku sedang mendapat masalah. Karena aku tahu, menjadi pemimpin yang begitu mengerti umat bukanlah hal yang mudah. Sehingga aku harus menjadi pundak bagi calon pemimpin-pemimpin luar biasa tersebut.
Terkadang aku sedih ketika mendengar kisah teman-temanku yang dianggap tidak kompeten di organisasi atau hal lain karena harus pulang lebih cepat atau tidak bisa selalu membersamai. Sungguh, kami telah melakukan hal terbaik yang kami bisa. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk selalu ada, untuk selalu berkontribusi. Disini aku belajar bahwa ternyata banyak orang yang menilai banyaknya kontribusi itu dilihat dari porsi. Padahal, kami selalu berjuang untuk selalu ada meski kami tidak bisa selalu ada untuk membersamai.
Terima kasih banyak untuk ke-29 sahabat sampai surga yang luar biasa, serta seorang supervisor yang lebih dari sekedar luar biasa. Terus ajari aku dan bimbing aku untuk menjadi pribadi luar biasa seperti teman-teman. Ajari aku menajadi lebih berguna dan mampu membuat perubahan untuk kehidupan umat. Aku ingin sekali menjadi Hafidzah seperti Rosyda. Mengabdikan diri untuk mendidik karakter anak-anak seperti Kak Fadhil. Bergelut penuh terhadap masalah orang lain dan menjadi advokat luar biasa seperti Awe. Menjadi pribadi yang begitu kritis dan kuat seperti Caca. Seseorang yang penyabar dan suka membantu seperti Ulfa. Orang yang begitu tangguh seperti Kak Afifah. Penyabar dan sebaik hati Kak Upi. Serajin dan sebaik Fitri. Seceria dan seapa-adanya Kak Una. Menginspirasi dan pantang menyerah seperti Rere. Unik dan menjadi pribadi yang berbeda seperti Muthia. Secerdas dan seanggun Awwal. Berani, menakjubkan dan begitu cakap dalam berbahasa seperti Kak Nurist. Periang dan selalu mendapatkan kesempatan ke luar negeri seperti Kak Yauma. Dokter yang begitu rajin dan pantang menyerah seperti Kak Izza. Seceria, apa-adanya dan menakjubkan seperti Nadiyah. Sabar, tenang dan pekerja keras seperti Nining. Mampu memahai orang lain dan ikhlas membantu seperti Ibu Lurah Fia. Sebersih dan serajin Kak Novi. Secantik dan semenarik Kak Yara. Seanggun dan bisa berbaur dengan siapa saja seperti Kak Riyana. Mempunyai banyak relasi seperti Annisa PS. Sejernih hatinya seperti Dwiani. Seteguh agamanya dan sebaik akhlaqnya seperti Fatimah. Sevisioner dan mau mengubah orang lain seperti Megandini. Secantik dan seprestatif Kak Kinan. Baik hati dan selalu menolong orang lain seperti Kak Astuti. Sebaik hati dan seceria Ayu. Kokoh dan mau ke luar dari zona nyaman seperti Iftin. Serta cakupan dari ke-29 orang luar biasa seperti Kak Devi.
Aku ingin Rumah Kepimpinan selalu membawa kebaikan-kebaikan untuk penghuninya dan siapa saja yang berada di sekitarnya. Jangan pernah lelah berjuang teman-teman. Mari kita bersama-sama mewujudkan impian dan harapan kita. Untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik dan mertarbat serta menjujung tinggi kebaikan dari Sang Maha Pemilik Segalanya.
Terakhir,...

Di hati telah tertanam cinta
Rela korbankan jiwa raga
Demi kehormatan dan cita
Tegakkan kejayaan bangsa
Meski jiwa gugur
Sebagai penebus
Tak akan goyahkan hati
Telah bulat tekad untuk berbakti
Mengemban misi bersih suci
Tanpa harap balasan jasa
Hanya ridho Allah semata
Rumah Kepemimpinan berjuang
Demi Indonesia mulia...


Semoga hymne yang kita nyanyikan selama satu bulan di bulan Agustus benar-benar mematri nurani kita untuk saling menguatkan satu sama lain.

You May Also Like

0 comments