Membangun Indonesia dari Desa
Oleh Nur
Agis Aulia
1.
Jumlah petani di Indonesia tahun 2013 sebanyak
31,7 juta orang, terdiri dari laki-laki berjumlah 24,36 juta orang dan
perempuan 7,4 juta orang.
2.
Jumlah usaha tani pada tahun 2013 tercatat 26,14
juta rumah tangga (RT).
3.
Dari jumlah rumah tangga petani tersebut, petani
subsektor tanaman pangan 17,73 juta, hortikultura 10,60 juta, perkebunan 12,77
juta, peternakan 12,97 juta, perikanan kegiatan budidaya ikan 1,19 juta,
perikanan kegiatan penangkapan ikan 0,86 juta, kehutanan 6,78 juta, dan jasa
pertanian 1,08 juta rumah tangga.
4.
Jumlah petani gurem 14,25 juta rumah tanggga.
Petani gurem adalah petani yang memiliki lahan kurang dari 2 hektar.
5.
Jumlah rumah tangga menurut petani utama yang
berusia di atas 54 tahun pada tahun 2013 relatif besar, yaitu sebanyak 8,56
juta rumah tangga (32,76 persen).
6.
Rata-rata luas lahan yang dikuasai rumah tangga
usaha pertanian tahun 2013 seluas 0,89 hektar.
7.
63,20 persen dari 28,07 juta orang penduduk
miskin Indonesia berada di pedesaan. Artinya, ada sekitar 17,74 juta orang di
pedesaan yang hidup miskin, dan sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai
petani. (diolah dari data BPS)
Data pada
tahun 2013 di atas menjelaskan bahwa kondisi pertanian di Indonesia berada pada
masa yang “tidak baik-baik saja”. Pasalnya, Indonesia dilansir sebagai negara
agragis di dunia dan menempati urutan pertama negara kepulauan terbesar di
dunia serta memiliki iklim tropis yang cocok untuk industri agragis. Namun pada
kenyataanya, data yang ditampilkan di atas merupakan tamparan keras bagi negara
yang menyandang status sebagai negara agragis.
Kondisi memprihantikan di mengenai pertanian di
Indonesia melatarbelakangi seorang mahasiswa lulusan FISIPOL Universitas Gadjah
Mada ini untuk memutuskan beralih bidang dan menekuni dunia pertanian. Ia
merasa bahwa jika kita ingin mewujudkan Indonesia yang mampu berdikari
seutuhnya maka salah satu aspek terpenting yang harus dicapai adalah berdikari secara
pangan dan mampu memenuhi segala aspek pangan secara madani.
Setelah lulus dari FISIPOL UGM, Agis sapaan pria
asal Banten ini memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya dan membangun sebuah
komunitas tani dengan konsep “Pertanian Terpadu” yang saling mengintegrasikan
perikanan, pertanian dan peternakan. Ia membuat sebuah konsep bahwa segala hal
tentang perikanan, pertanian dan peternakan dapat saling terhubung dan
diintegrasikan sehingga produk hasil olahan ketika sektor tersebut dapat saling
dimanfaatkan untuk sektor yang lain dan tidak ada produk sisa yang terbuang
percuma.
Kini Agis telah mampu mengolah 8 hektar lahan
miliknya sekaligus bantuan dari investor dan mampu memberdayakan serta
mensejahterakan petani-petani di lingkungan tempat tinggalnya. Agis merasa
bahwa hal yang ia lakukan sekarang merupakan hasil dari pembelajaran yang ia
dapatkan selama dibina di asrama Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta.
Menurutnya, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”
sehingga yang ia meski banyak orang yang mencibir dan mempertanyakan mengapa
seorang sarjana FISIPOL justru terjun kedunia pertanian, maka setidaknya ia
telah mengamalkan sebuah kebaikan dari hadist dan telah mampu menebar manfaat
bagi orang-orang di sekitarnya.
Selama Agis
berasrama, Agis dan rekan-rekan telah membuat sebuah pemetaan masa depan untuk
berada dimana mereka akan mengabdi setelah menjadi Alumni Rumah Kepemimpinan
nantinya. Mereka merepresentasikan berada dalam tiga sektor. Yang pertama
sektor Publik yang berarti bekecimpung di dunia pemerintahan dan mengatur
berbagai peraturan untuk membentuk tatanan Indonesia yang lebih baik dan
mensejahterakan segala umat. Yang kedua sektor privat yang berarti swasta yang
mampu menciptakan berbagai industri kreatif, meraup jutaan lapangan pekerjaan,
dan mampu membantu rekan-rekan di industri lainnya untuk mewujudkan Indonesia
yang bermartabat dan berdikari seutuhnya. Yang ketika adalah sektor lainnya
dimana kita bisa saja berkecimpung di dalam masyarakat melalui bidang NGO,
Industri kreatif, pengabdian dan masih banyak lagi. Disini Agis memilih sektor
yang ketiga dimana ia terjun langsung membangun masyarakat melalui bidang yang
begitu dengan masyarakat yakni pertanian.

0 comments