Membangun Indonesia dari Desa

by - 10/01/2016 09:25:00 AM


Oleh Nur Agis Aulia



Dilansir dari data Badan Pusat Statistika menjelaskan bahwa :
1.      Jumlah petani di Indonesia tahun 2013 sebanyak 31,7 juta orang, terdiri dari laki-laki berjumlah 24,36 juta orang dan perempuan 7,4 juta orang.
2.      Jumlah usaha tani pada tahun 2013 tercatat 26,14 juta rumah tangga (RT).
3.      Dari jumlah rumah tangga petani tersebut, petani subsektor tanaman pangan 17,73 juta, hortikultura 10,60 juta, perkebunan 12,77 juta, peternakan 12,97 juta, perikanan kegiatan budidaya ikan 1,19 juta, perikanan kegiatan penangkapan ikan 0,86 juta, kehutanan 6,78 juta, dan jasa pertanian 1,08 juta rumah tangga.
4.      Jumlah petani gurem 14,25 juta rumah tanggga. Petani gurem adalah petani yang memiliki lahan kurang dari 2 hektar.
5.      Jumlah rumah tangga menurut petani utama yang berusia di atas 54 tahun pada tahun 2013 relatif besar, yaitu sebanyak 8,56 juta rumah tangga (32,76 persen).
6.      Rata-rata luas lahan yang dikuasai rumah tangga usaha pertanian tahun 2013 seluas 0,89 hektar.
7.      63,20 persen dari 28,07 juta orang penduduk miskin Indonesia berada di pedesaan. Artinya, ada sekitar 17,74 juta orang di pedesaan yang hidup miskin, dan sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai petani. (diolah dari data BPS)
 Data pada tahun 2013 di atas menjelaskan bahwa kondisi pertanian di Indonesia berada pada masa yang “tidak baik-baik saja”. Pasalnya, Indonesia dilansir sebagai negara agragis di dunia dan menempati urutan pertama negara kepulauan terbesar di dunia serta memiliki iklim tropis yang cocok untuk industri agragis. Namun pada kenyataanya, data yang ditampilkan di atas merupakan tamparan keras bagi negara yang menyandang status sebagai negara agragis.
Kondisi memprihantikan di mengenai pertanian di Indonesia melatarbelakangi seorang mahasiswa lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada ini untuk memutuskan beralih bidang dan menekuni dunia pertanian. Ia merasa bahwa jika kita ingin mewujudkan Indonesia yang mampu berdikari seutuhnya maka salah satu aspek terpenting yang harus dicapai adalah berdikari secara pangan dan mampu memenuhi segala aspek pangan secara madani.
Setelah lulus dari FISIPOL UGM, Agis sapaan pria asal Banten ini memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya dan membangun sebuah komunitas tani dengan konsep “Pertanian Terpadu” yang saling mengintegrasikan perikanan, pertanian dan peternakan. Ia membuat sebuah konsep bahwa segala hal tentang perikanan, pertanian dan peternakan dapat saling terhubung dan diintegrasikan sehingga produk hasil olahan ketika sektor tersebut dapat saling dimanfaatkan untuk sektor yang lain dan tidak ada produk sisa yang terbuang percuma.
Kini Agis telah mampu mengolah 8 hektar lahan miliknya sekaligus bantuan dari investor dan mampu memberdayakan serta mensejahterakan petani-petani di lingkungan tempat tinggalnya. Agis merasa bahwa hal yang ia lakukan sekarang merupakan hasil dari pembelajaran yang ia dapatkan selama dibina di asrama Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta. Menurutnya, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain” sehingga yang ia meski banyak orang yang mencibir dan mempertanyakan mengapa seorang sarjana FISIPOL justru terjun kedunia pertanian, maka setidaknya ia telah mengamalkan sebuah kebaikan dari hadist dan telah mampu menebar manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Selama Agis berasrama, Agis dan rekan-rekan telah membuat sebuah pemetaan masa depan untuk berada dimana mereka akan mengabdi setelah menjadi Alumni Rumah Kepemimpinan nantinya. Mereka merepresentasikan berada dalam tiga sektor. Yang pertama sektor Publik yang berarti bekecimpung di dunia pemerintahan dan mengatur berbagai peraturan untuk membentuk tatanan Indonesia yang lebih baik dan mensejahterakan segala umat. Yang kedua sektor privat yang berarti swasta yang mampu menciptakan berbagai industri kreatif, meraup jutaan lapangan pekerjaan, dan mampu membantu rekan-rekan di industri lainnya untuk mewujudkan Indonesia yang bermartabat dan berdikari seutuhnya. Yang ketika adalah sektor lainnya dimana kita bisa saja berkecimpung di dalam masyarakat melalui bidang NGO, Industri kreatif, pengabdian dan masih banyak lagi. Disini Agis memilih sektor yang ketiga dimana ia terjun langsung membangun masyarakat melalui bidang yang begitu dengan masyarakat yakni pertanian.

            Agis berpesan bahwa selama dibina di Rumah Kepemimpinan belajarlah hal sebanyak-banyaknya dari orang-orang di sekitar kita. Karena disinilah suatu saat orang-orang hebat yang peduli akan nasib orang lain terbentuk. Orang-orang hebat yang tidak hanya mampu menghebatkan diri sendiri, namun mampu mengajak orang-orang di sekelilingnya untuk menjadi hebat pula.

            

You May Also Like

0 comments