Leaders and Leadership

by - 10/01/2016 09:23:00 AM


Oleh Bachtiar Firdaus, S.T., M.PP.

Session 1
            Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Disinilah Rumah Kepemimpinan berada. Memaksa seluruh kader-kader pemimpin muda untuk melampaui batas dirinya untuk mewujudkan impian-impian serta siap menjadi pemimpin masa depan.
Hal yang membedakan peserta Rumah Kepemimpinan adalah niat. Seperti  hadist yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Hal tersebut juga mengajarkan kepada seluruh peserta Rumah Kepemimpinan untuk meluruskan niat. Pemimpin yang hebat tidak akan lahir dari orang-orang yang masih menghamba pada tuhan-tuhan kecil. Laki-laki terhadap perempuan, maupun perempuan terhadap laki-laki. Jadi, barangsiapa yang niatnya belum lurus karena Allah dan ikhlas untuk dibina maka keluarlah dari Rumah Kepemimpinan karena disini bukanlah tempat untuk orang-orang hebat, orang-orang yang namanya selalu dikenang, orang-orang yang memiliki jutaan prestasi, melainkan orang-orang yang memiliki niat bersih dan lurus untuk menjadi pemimpin karena Allah.
            Prophetic Leadership atau Kepemimpinan Prophetic adalah kepemimpinan yang membebaskan diri dari penghambaan manusia dan memerdekakan diri dari segala hal yang membuat kita berpaling dari penghambaan kita terhadap Allah semata.
            Seorang pemimpin haruslah ia yang banyak membaca. Allah pertama kali memerintahkan Muhammad untuk Iqra’ yang berarti membaca. Padahal Rasulullah merupakan seorang yang ummi yang tidak dapat membaca maupun menulis. Karena apa? Seseorang akan bertambah pengetahuan dan pandangannya dengan memperbanyak bacaannya. Seseorang akan berpikir lebih kritis, lebih global, lebih moderat jika semakin banyak membaca dan belajar menimbang dari berbagai aspek.
            Kebodohan sejatinya hanya dapat dimatikan oleh ilmu, dan sebaik-baiknya ilmu yang kita dapat adalah dari semakin banyaknya bacaan yang kita baca. Seorang pemimpin yang baik harus memaksa dirinya untuk dapat mempengaruhi orang lain dan mempengaruhi dirinya untuk menjadi lebih dan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Untuk itulah kita harus membaca karena membaca akan mempengaruhi pola pikir kita dan daya pengaruh terhadap orang lain. Bacaan yang kita baca juga dapat mempengaruhi bagaimana kita bertindak, mempengaruhi bobot ucapan kita, memperbanyak pengetahuan kita dalam berdiskusi dan menambah wawasan kita agar lebih mudah mempengaruhi orang lain dengan ilmu yang kita miliki.

Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what are you doing (Pele)
           
Dengan menjadi pemimpin, maka ayat ayat Allah akan lebih mudah disebarkan ke muka bumi secara lebih luas, karena pengaruh seorang pemimpin. Ini menyadarkan sesungguhnya peran manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Dimana dengan menjadi pemimpin visi ilahiyah akan semakin kuat. Maka dari itu temukanlah visi dan misi keilahiyahan anda terlebih dahulu, kemudian sebarkan dan gunakan.
            Menjadi pemimpin harus memiliki visi misi yang besar. Karena dengan visi misi itulah yang dapat meraksasakan diri kita. Menembus batas-batas pada diri kita untuk menjadi raksasa-raksasa dengan gapaian yang teratam tinggi. Visi misi memberikan kekuatan untuk mampu menjadi sosok-sosok luar biasa yang dapat mengispirasi orang lain.

Don’t downgrade your dream just to fit your reality. Upgrade your conviction to match your destiny.
           
 Pemimpin profetik bukanlah ia yang hanya hebat untuk dirinya sendiri, namun ia yang mampu membawa orang lain ikut serta menjadi sepertinya dirinya. Pemimpin yang hebat bukanlah yang ia yang namanya begitu dikenal, jasanya begitu diingat, orasinya begitu menggelegar, namun ia yang mampu menciptkan kader-kader yang hebat. Yang mampu membawa perubahan untuk orang-orang disekitarnya serta ia yang mampu membimbing penerus-penerusnya untuk menjadi pemimpin berikutnya.

Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growng others. (Jack Welch)

Rumah kepemimpinan memaksa para pesertanya untuk menjadi seorang muslim yang produktif. Menyibukkan seluruh hari penuh dengan hal-hal yang bermaat dan memberi ibroh bagi orang lain. Rumah Kepemimpinan mengajarkan bahwa seorang agen muslim yang dapat memberi contoh bagi orang lain haruslah agen muslim yang produktif, prestatif dan kontributif sehingga dapat menginspirasi orang lain untuk menjadi muslim yang demikian pula.

Session 2
Peradaban Islam pernah meraih kejayaannya pada tahun 2000SM dan 5000 SM. Dimana Islam melahirkan banyak sekali cendekiawan-cendekiawan muslim yang menciptakan penemuan-penemuan yang mampu menggucang dunia. Padahal pada saat tersebut bangsa Eropa sedang mengalami masa-masa “Dark Ages” dan dalam masa keterpurukan.
            Belajar dari sejarah, kita dapat tahu bagaimana peradaban kita dulu terbentuk dan bagaiman strategi kita sebagai muslim yang baik untuk menyikapi perbedaan dan problematika yang ada sekarang. Belajar sejarah bukan berarti kita ingin mengungkit-ngungkit apa yang telah terjadi pada masa lalu, namun menjadikan kita pembelajaran untuk dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan pada masa lampau. Seperti yang kita lihat sekarang bahwa dulunya kaum muslim pernah menempati puncak kejayaan, namun sekarang penemuan-penemuan di berbagai sektor justru diciptakan oleh bangsa nasrani. Mengapa? Karena kita terlalu fokus mengejar kemajuan tanpa mempertimbangkan sejarah sebagai pengalaman dan bentuk pelajaran.
Segala perubahan yang ada merupakan keterlibatan dari Allah. Termasuk perubahan peradaban yang telah terjadi sebelumnya. Kita kurang melibatkan Allah dalam berbagai urusan kita. Kita terlalu sibuk mengejar popularitas dan tujuan duniawi sehingga kita lupa bahwasanya Allah lah yang Maha Berkehendak dan Maha Membolak-balikkan keadaan.


You May Also Like

0 comments