Kajian Islam Pekanan #3
“Mencintai
Tauhid”
Oleh Kelompok Aisyah
Kita
tahu apa itu membaca. Kita tahu apa itu menulis. Kita tahu apa itu belajar.
Kita paham bagaimana cara memahami. Kita sadar bagaimana cara meneledani. Tapi
apakah kita sudah sanggup membaca yang sebenar-benarnya membaca? Menulis yang
sebenar-benarnya menulis? Belajar yang sebenar-benarnya belajar? Memahami dan
mampu menjelaskan kembali? Meneladani serta memberikan tauladan? Jika
jawabannya belum, marilah merenung sejenak...
Tauhid
berarti mengakui dan mempercayai keesaan Allah. Tauhid mengajarkan kita untuk
mengenal lebih dalam untuk apa kita diciptakan dan siapakah Sang Maha Pencipta
kita. Namun sudahkah kita benar-benar paham arti Tauhid?
Kebanyakan
dari kita tahu berbagai hal mengenai agama. Tahu bahwa Al-Quran telah
menjelaskan segalanya. Tahu membedakan yang hak dan yang batil, namun sedikit
dari kita yang yang tahu dan mampu memahami dan mengaplikasikannya secara penuh
dalam kehidupan kita.
Ketika
kita membaca Al-Quran, apa yang sebenarnya menjadi orientasi kita? Memperbanyak
bacaan? Menebalkan hapalan? Mencapai target harian dan bulanan? Ataukah justru
ingin terlihat keren dipandangan manusia? Mari kita merenung sejenak... untuk
apakah amalam-amalan kita, kita lakukan.
Banyak
dari kita membaca Al-Quran dengan teramat lancar dan fasih. Tapi hanya sedikit
dari kita yang mau membaca artinya, merenungi maksudnya, meneladani
kebaikan-kebaikannya, serta mengamalkan ajaran-ajarannya. Mengapa? Karena
orientasi kita berbeda. Orientasi kita bukan Al-Quran sebagai way of life dan point of view tetapi Al-Quran hanya sebagai penentram hati dan penggugur target bulanan kita. Padahal
sejatinya Al-Quran Allah turunkan kepada kita sebagai petunjuk dan pandangan
hidup kita dalam berkehidupan.
Sama
halnya dengan amalan-amalan yang kita lakukan sehari-hari. Apakah salat kita
hanya penggugur kewajiban? Apakah puasa kita hanya sebagai penahan lapar?
Apakah amalan-amalan kita hanya serangkaian rutinitas belaka? Marilah merenung
kembali...
Mencintai
tauhid berarti mencintai segala amalan yaumiyah yang kita lakukan. Mencintai
dengan hati, memahami dengan pikiran dan meneladani dalam perbuatan. Tidak
hanya sekedar sebagai rutinitas, melainkan sebagai sebuah penuntut dan petunjuk
pada langkah-langkah rapuh kita. Semoga kita senantiasa belajar untuk lebih
memaknai daripada sekedar menjalani.
0 comments