Kajian Islam Pekanan #1

by - 10/01/2016 09:21:00 AM


“Meneladani Salman Al-Farisi”
Oleh Kelompok Aisyah

            Banyak hati yang tergerak untuk mencari kebenaran. Tak sedikit orang yang mengayunkan langkah, menelusuri jalan panjang demi sebuah hidayah. Namun, kerap kali mereka goyah didera badai ujian, sementara tak jarang jemari melemah melepas hidayah yang sempat digenggam. Inilah Salman al-Farisi ra, seorang sahabat yang mulia. Kegigihannya dalam mencari kebenaran adalah teladan. Kekokohannya menggenggam hidayah adalah bukti kebenaran iman. (sajadahmuslimu)
            Salman adalah salah seorang penduduk Persia (dalam bahasa Arab, Faris), karena itulah beliau disebut dengan al-Farisi. Beliau berasal dari sebuah desa bernama Jayy, bagian dari kota Asbahan (kota Isfahan, Iran). Ketika itu beliau dikenal dengan nama aslinya Ruziyah. Setelah memeluk Islam beliau bergelar Abu Abdillah, masyhur dengan julukan Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam. Ayah beliau adalah seorang pembesar di desanya. Kecintaan yang sangat kepada Salman membuat sang Ayah menahan puteranya di dalam rumah layaknya gadis pingitan. Salman menjalani hari-harinya sebagai penjaga api, sesembahan pemeluk agama Majusi.
            Suatu ketika Salman pergi ke luar pada saat penjagaan api tersebut, kemudian saat ia kembali ia mendapati bahwa api tersebut padam. Ia lantas memberontak kepada ayahnya. Bagaimana mungkin ia menyembah Tuhan yang dapat padam ketika ia tinggalkan. Kemudian Salman pergi dan mendapati orang-orang sedang beribadah di sebuah gereja. Lantas Salman mengetahui bahwa orang-orang tersebut beragama Nasrani. Orang-orang yang beragama Nasrani tersebut berasal dari negeri Syam (Palestina dan sekitarnya). Kemudian Salman pergi ke negara Syam dan mencari siapa orang utama dari pengikut agama Nasrani. Bertemulah Salman dengan seorang uskup yang ada di gereja. Kemudian belajarlah Salman mengenai agama Nasrani dengan uskup tersebut. Namun ternyata uskup tersebut jelek perangainya dan tak lama kemudian uskup tersebut mati, sehingga Salman mencari uskup lain untuk belajar agama Nasrani.
            Salman kemudian mencari uskup lain untuk belajar dan menemukan seorang uskup yang baik. Ia selalu bersikap Zuhud, bersikap baik pada sesama dan taat dalam beribadah sehingga Salmanpun menyukainya. Setelah lama tinggal dengan uskup tersebut, tibalah saat dimana uskup tersebut kepada kematian. Ia merasa berkecamuk. Kemana lagi ia akan belajar agama ketika uskup tersebut telah tiada. Uskup tersebut berpesan bahwa “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mendapati seorang pun yang berada di atas agama yang aku peluk. Orang-orang telah binasa. Mereka telah mengubah agama Nasrani dan meninggalkan kebanyakan agama mereka, kecuali seseorang di Maushil (kota Mosul, Irak). Dia adalah Fulan, ia berada di atas agama yang aku peluk. Maka temuilah dia!”
Salman terus memikirkan apa yang uskup tersebut katakan. Ia juga masih bingung apa maksud dari uskup tersebut sehingga ia mendatangi uskup tersebut kembali. Uskup tersebut lalu mengatakan, “Wahai anakku, aku tidak mengetahui ada seorang pun yang berada di atas agama kami yang aku memerintahkanmu untuk mendatanginya. Tetapi telah dekat masa pengutusan seorang Nabi. Dia diutus dengan agama Nabi Ibrahim yang muncul dari jazirah, kemudian hijrah ke sebuah negeri di antara dua tanah yang berbatu hitam, diantaranya ada pohon-pohon kurma (kota Madinah).” Lelaki itu lalu melanjutkan, “Pada orang itu ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi, dia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Diantara kedua pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau mampu untuk mendatangi Negeri tersebut, maka lakukanlah! “ Tak lama, lelaki itu pun meninggal. Salmanpun akhirnya pergi mencari siapakah seorang Fulan yang dikatakan uskup tersebut.
Salman kemudian pergi ke kota dimana banyak ditumbuhi pohon kurma. Nah satu tanda telah tercapai. Kemudian ia hidup disana dan bekerja disana. Pada suatu hari ia melihat seseorang yang sedang berdakwah dan berkumpul dengan para sahabat-sahabatnya. Salman melihat ada seseorang yang memberikan sedekah untuk orang tersebut. Lalu ia tidak memakannya. Betapa bahagianya hati Salman, ia teringat bahwa dua tanda telah terpenuhi. Keesokan harinya, Salman menemui fulan tersebut dan memberikan sesuatu berupa hadiah. Kemudian fulan tersebut mau memakannya. Semakin bahagianya hati Salman bahwa tiga tanda telah terpenuhi.
Suatu ketika karena Salman masih terngiang-ngiang akan pernyataan uskup sebelum meninggal, ia lantas memperhatikan pundak fulan tersebut. Kemudian fulan tersebut menyibakkan bajunya dan Salman telah melihat tanda kenabian pada pundah fulan tersebut. Ternyata fulan tersebut adalah Rasulullah SAW. Salman lalu belajar agama terhadap beliau dan akhirnya Salman masuk agama Islam.
            

You May Also Like

0 comments