Kajian Islam Pekanan #1
“Meneladani
Salman Al-Farisi”
Oleh Kelompok Aisyah
Banyak
hati yang tergerak untuk mencari kebenaran. Tak sedikit orang yang mengayunkan
langkah, menelusuri jalan panjang demi sebuah hidayah. Namun, kerap kali mereka
goyah didera badai ujian, sementara tak jarang jemari melemah melepas hidayah
yang sempat digenggam. Inilah Salman al-Farisi ra, seorang sahabat yang mulia.
Kegigihannya dalam mencari kebenaran adalah teladan. Kekokohannya menggenggam
hidayah adalah bukti kebenaran iman. (sajadahmuslimu)
Salman
adalah salah seorang penduduk Persia (dalam bahasa Arab, Faris), karena itulah
beliau disebut dengan al-Farisi. Beliau berasal dari sebuah desa bernama Jayy,
bagian dari kota Asbahan (kota Isfahan, Iran). Ketika itu beliau dikenal dengan
nama aslinya Ruziyah. Setelah memeluk Islam beliau bergelar Abu Abdillah,
masyhur dengan julukan Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam. Ayah beliau
adalah seorang pembesar di desanya. Kecintaan yang sangat kepada Salman membuat
sang Ayah menahan puteranya di dalam rumah layaknya gadis pingitan. Salman
menjalani hari-harinya sebagai penjaga api, sesembahan pemeluk agama Majusi.
Suatu
ketika Salman pergi ke luar pada saat penjagaan api tersebut, kemudian saat ia
kembali ia mendapati bahwa api tersebut padam. Ia lantas memberontak kepada
ayahnya. Bagaimana mungkin ia menyembah Tuhan yang dapat padam ketika ia
tinggalkan. Kemudian Salman pergi dan mendapati orang-orang sedang beribadah di
sebuah gereja. Lantas Salman mengetahui bahwa orang-orang tersebut beragama
Nasrani. Orang-orang yang beragama Nasrani tersebut berasal dari negeri Syam
(Palestina dan sekitarnya). Kemudian Salman pergi ke negara Syam dan mencari
siapa orang utama dari pengikut agama Nasrani. Bertemulah Salman dengan seorang
uskup yang ada di gereja. Kemudian belajarlah Salman mengenai agama Nasrani
dengan uskup tersebut. Namun ternyata uskup tersebut jelek perangainya dan tak
lama kemudian uskup tersebut mati, sehingga Salman mencari uskup lain untuk
belajar agama Nasrani.
Salman
kemudian mencari uskup lain untuk belajar dan menemukan seorang uskup yang
baik. Ia selalu bersikap Zuhud, bersikap baik pada sesama dan taat dalam
beribadah sehingga Salmanpun menyukainya. Setelah lama tinggal dengan uskup
tersebut, tibalah saat dimana uskup tersebut kepada kematian. Ia merasa
berkecamuk. Kemana lagi ia akan belajar agama ketika uskup tersebut telah
tiada. Uskup tersebut berpesan bahwa “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak
mendapati seorang pun yang berada di atas agama yang aku peluk. Orang-orang
telah binasa. Mereka telah mengubah agama Nasrani dan meninggalkan kebanyakan
agama mereka, kecuali seseorang di Maushil (kota Mosul, Irak). Dia adalah
Fulan, ia berada di atas agama yang aku peluk. Maka temuilah dia!”
Salman terus memikirkan
apa yang uskup tersebut katakan. Ia juga masih bingung apa maksud dari uskup
tersebut sehingga ia mendatangi uskup tersebut kembali. Uskup tersebut lalu
mengatakan, “Wahai anakku, aku tidak mengetahui ada seorang pun yang berada di
atas agama kami yang aku memerintahkanmu untuk mendatanginya. Tetapi telah
dekat masa pengutusan seorang Nabi. Dia diutus dengan agama Nabi Ibrahim yang
muncul dari jazirah, kemudian hijrah ke sebuah negeri di antara dua tanah yang
berbatu hitam, diantaranya ada pohon-pohon kurma (kota Madinah).” Lelaki itu
lalu melanjutkan, “Pada orang itu ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi, dia
memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Diantara kedua pundaknya ada tanda
kenabian. Jika engkau mampu untuk mendatangi Negeri tersebut, maka lakukanlah!
“ Tak lama, lelaki itu pun meninggal. Salmanpun akhirnya pergi mencari siapakah
seorang Fulan yang dikatakan uskup tersebut.
Salman kemudian pergi
ke kota dimana banyak ditumbuhi pohon kurma. Nah satu tanda telah tercapai.
Kemudian ia hidup disana dan bekerja disana. Pada suatu hari ia melihat
seseorang yang sedang berdakwah dan berkumpul dengan para sahabat-sahabatnya.
Salman melihat ada seseorang yang memberikan sedekah untuk orang tersebut. Lalu
ia tidak memakannya. Betapa bahagianya hati Salman, ia teringat bahwa dua tanda
telah terpenuhi. Keesokan harinya, Salman menemui fulan tersebut dan memberikan
sesuatu berupa hadiah. Kemudian fulan tersebut mau memakannya. Semakin
bahagianya hati Salman bahwa tiga tanda telah terpenuhi.
Suatu ketika karena Salman
masih terngiang-ngiang akan pernyataan uskup sebelum meninggal, ia lantas
memperhatikan pundak fulan tersebut. Kemudian fulan tersebut menyibakkan
bajunya dan Salman telah melihat tanda kenabian pada pundah fulan tersebut.
Ternyata fulan tersebut adalah Rasulullah SAW. Salman lalu belajar agama
terhadap beliau dan akhirnya Salman masuk agama Islam.
0 comments