Kajian Aqidah
Oleh Ustadz
Afifi Abdul Wadud, BA.
SYUKUR
If you are grateful, I will give you more (Surah Ibrahim ayat 7)
Menjadi pribadi yang pandai
bersyukur bukanlah hal yang mudah. Terlebih, manusia memiliki kecenderungan
untuk selalu menginginkan hal yang lebih dari apa yang telah ia dapatkan.
Sejatinya, apapun yang Allah telah berikan kepada kita merupakan pemberian
terbaik menurutNya. Karena, belum tentu apa yang kita inginkan merupakan yang
terbaik untuk kita, namun apa yang telah kita dapatkan merupakan pemberian
terbaik yang telah Allah pilihkan untuk kita. Allah SWT berfirman :
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ
اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu
menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS An Nahl : 18)
Ayat tersebut menjelaskan
bahwa jika kita mencoba menghitung banyaknya nikmat yang telah Allah berikan
untuk kita, sebenarnya kita tidak akan sanggup untuk memperkirakannya. Karena
setiap nafas yang kita hembuskan, setiap detak yang kita degupkan, setiap kedip
dari kelopak mata kita dan setiap tetesan keringat yang berhasil kita jatuhkan
sesugguhnya merupakan nikmat dari Allah. Hanya saja, seringkali hal-hal kecil
yang membuat kita masih bisa bernapas, memperopleh penghidupan yang layak,
tempat bernanung yang nyaman, serta hal-hal yang tanpa kita sedari begitu erat
kaitannya dengan hidup kita membuat kita seakan-akan kufur oleh nikmat Allah
tanpa adanya rasa syukur yang kita ucapkan.
Selain
rasa syukur, hal lain yang harus kita seimbangkan pada diri kita adalah
istigfar. Allah telah berfirman :
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)
“(1) Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
(2) dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,(3)
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (Q.S. An Nashr:1-3)
Ayat
tersebut menjelaskan bahwa syukur erat kaitannya dengan beristigfar. Ketika manusia mendapat nikmat, manusia cenderung lupa dan
congkak akan hakikatnya. Bahwa ketika diri kita hebat, masih banyak orang-orang
hebat di atas kita. Ketika diri kita merasa rendah, masih banyak orang-orang
kurang beruntung di bawah kita. Sehingga kita harus menyeimbangkan antara
bersyukur dan beristigfar agar terhindar dari sikap sombong dan rendah diri.
NIKMAT: PRINSIP DASAR
AQIDAH ISLAM
Sebagaimana yang
diucapkan oleh imam Abu ‘Aliyah rahimahullahu ta’ala, seorang pembesar
tabi’in yag mengatakan: “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'aala telah memberikan
kepadaku dua nikmat, dan aku tidak tahu mana antara keduannya lebih afdhol
(utama), yaitu Allah Subhanahu wa Ta'aala memberiku hidayah untuk memeluk Islam, dan tidak menjadikan aku seorang Haruri
(kelompok Khawarij).”
NIKMAT ISLAM
Memeluk agama Islam merupakan sebuah karunia dan hidayah
dari Allah SWT. Karena dengan adanya Islam dan Iman sesungguhnya Allah telah
memberikan nikmat yang luar biasa untuk diri kita. Seperti firman Allah :
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (QS
AL Mu’minun :1)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya kebahagiaan yang
hakiki itu hanya ada bersama islam, dan semua orang ingin bahagia. Namun, apakah
kebahagiaan itu? Kebahagiaan adalah
hati yang tenang & jiwa yang lapang. Sehingga
berbahagialah kita yang dikaruniai berkah berada dalam naungan iman dan Islam.
LETAK KEBAHAGIAAN
ADA DI HATI
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahagia merupakan keadaan atau perasaan
senang dan tentram (terbebas dari segala hal yang menyusahkan). KBBI
menjelaskan bahwa ketika kita ingin dikatakan sebagai orang yang bahagia,
hendaklah kita memerdekakan diri tidak terbebas dari hal-hal yang menyusahkan diri
kita. Karena awal dari segala kebahagiaan yang ada pada diri kita berasal dari
hati dan pikiran kita. Ketika hati dan pikiran kita berkecamuk dan
terus-terusan memikirkan hal-hal yang menstimulasi kerja tubuh kita untuk tidak
bahagia, maka kita tidak akan pernah merasakan apa yang namanya bahagia. Jadi,
ketika kita ingin bahagia, bersihkan dulu hati kita, jernihkan dulu pikiran
kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki.
NIKMAT TIDAK MENJADI
HARURI
Orang haruri yang dimaksud disini ialah
pelaku bid’ah dalam agama. Dimana ia
berspekulasi bahwa apa yang ia lakukan demi kepentingan agama adalah benar,
sedangkan apa yang orang lain lakukan dan menyimpang dari agama merupakan
sebuah kesalahan.
Islam
merupakan agama yang bebas dan tidak memaksa hambanya untuk memeluk agama
Islam. Islam merupakan agama yang lembut sehingga kita tidak perlu melukan
hal-hal yang justru membuat orang bertafsir bahwa Islam adalah agama
pemberontak, Islam adalah agama pengekang yang memaksa pemeluknya mentaati
segala aturan yang ada, atau Islam adalah agama monarki. Namun, sebagai agen
muslim yang baik, hendaknya kita menunjukkan pada setiap orang bahwa Islam
adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Kita tunjukkan kebaikan-kebaikan yang ada
pada Islam. Kita ajarkan nilai-nilai kebermanfaat sehingga oran lain akan lebih
ikhlas dan lebih mudah menerima Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
0 comments