Kajian Aqidah

by - 10/01/2016 09:17:00 AM


Oleh Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA.

SYUKUR
If you are grateful, I will give you more (Surah Ibrahim ayat 7)
            Menjadi pribadi yang pandai bersyukur bukanlah hal yang mudah. Terlebih, manusia memiliki kecenderungan untuk selalu menginginkan hal yang lebih dari apa yang telah ia dapatkan. Sejatinya, apapun yang Allah telah berikan kepada kita merupakan pemberian terbaik menurutNya. Karena, belum tentu apa yang kita inginkan merupakan yang terbaik untuk kita, namun apa yang telah kita dapatkan merupakan pemberian terbaik yang telah Allah pilihkan untuk kita. Allah SWT berfirman :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS An Nahl : 18)
            Ayat tersebut menjelaskan bahwa jika kita mencoba menghitung banyaknya nikmat yang telah Allah berikan untuk kita, sebenarnya kita tidak akan sanggup untuk memperkirakannya. Karena setiap nafas yang kita hembuskan, setiap detak yang kita degupkan, setiap kedip dari kelopak mata kita dan setiap tetesan keringat yang berhasil kita jatuhkan sesugguhnya merupakan nikmat dari Allah. Hanya saja, seringkali hal-hal kecil yang membuat kita masih bisa bernapas, memperopleh penghidupan yang layak, tempat bernanung yang nyaman, serta hal-hal yang tanpa kita sedari begitu erat kaitannya dengan hidup kita membuat kita seakan-akan kufur oleh nikmat Allah tanpa adanya rasa syukur yang kita ucapkan.
            Selain rasa syukur, hal lain yang harus kita seimbangkan pada diri kita adalah istigfar. Allah telah berfirman :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)

(1) Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, (2) dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,(3) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (Q.S. An Nashr:1-3)
            Ayat tersebut menjelaskan bahwa syukur erat kaitannya dengan beristigfar. Ketika manusia mendapat nikmat, manusia cenderung lupa dan congkak akan hakikatnya. Bahwa ketika diri kita hebat, masih banyak orang-orang hebat di atas kita. Ketika diri kita merasa rendah, masih banyak orang-orang kurang beruntung di bawah kita. Sehingga kita harus menyeimbangkan antara bersyukur dan beristigfar agar terhindar dari sikap sombong dan rendah diri.

NIKMAT: PRINSIP DASAR AQIDAH ISLAM
Sebagaimana yang diucapkan oleh imam Abu ‘Aliyah rahimahullahu ta’ala, seorang pembesar tabi’in yag mengatakan: “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'aala telah memberikan kepadaku dua nikmat, dan aku tidak tahu mana antara keduannya lebih afdhol (utama), yaitu Allah Subhanahu wa Ta'aala memberiku hidayah untuk memeluk Islam, dan tidak menjadikan aku seorang Haruri (kelompok Khawarij).

NIKMAT ISLAM
            Memeluk agama Islam merupakan sebuah karunia dan hidayah dari Allah SWT. Karena dengan adanya Islam dan Iman sesungguhnya Allah telah memberikan nikmat yang luar biasa untuk diri kita. Seperti firman Allah :
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (QS AL Mu’minun :1)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki itu hanya ada bersama islam, dan semua orang ingin bahagia. Namun, apakah kebahagiaan itu? Kebahagiaan adalah hati yang tenang & jiwa yang lapang. Sehingga berbahagialah kita yang dikaruniai berkah berada dalam naungan iman dan Islam.

LETAK KEBAHAGIAAN ADA DI HATI
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahagia merupakan keadaan atau perasaan senang dan tentram (terbebas dari segala hal yang menyusahkan). KBBI menjelaskan bahwa ketika kita ingin dikatakan sebagai orang yang bahagia, hendaklah kita memerdekakan diri tidak terbebas dari hal-hal yang menyusahkan diri kita. Karena awal dari segala kebahagiaan yang ada pada diri kita berasal dari hati dan pikiran kita. Ketika hati dan pikiran kita berkecamuk dan terus-terusan memikirkan hal-hal yang menstimulasi kerja tubuh kita untuk tidak bahagia, maka kita tidak akan pernah merasakan apa yang namanya bahagia. Jadi, ketika kita ingin bahagia, bersihkan dulu hati kita, jernihkan dulu pikiran kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki.

NIKMAT TIDAK MENJADI HARURI
Orang haruri yang dimaksud disini ialah pelaku bid’ah dalam agama. Dimana ia berspekulasi bahwa apa yang ia lakukan demi kepentingan agama adalah benar, sedangkan apa yang orang lain lakukan dan menyimpang dari agama merupakan sebuah kesalahan.
Islam merupakan agama yang bebas dan tidak memaksa hambanya untuk memeluk agama Islam. Islam merupakan agama yang lembut sehingga kita tidak perlu melukan hal-hal yang justru membuat orang bertafsir bahwa Islam adalah agama pemberontak, Islam adalah agama pengekang yang memaksa pemeluknya mentaati segala aturan yang ada, atau Islam adalah agama monarki. Namun, sebagai agen muslim yang baik, hendaknya kita menunjukkan pada setiap orang bahwa Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Kita tunjukkan kebaikan-kebaikan yang ada pada Islam. Kita ajarkan nilai-nilai kebermanfaat sehingga oran lain akan lebih ikhlas dan lebih mudah menerima Islam dalam kehidupan bermasyarakat.


You May Also Like

0 comments