Bedah Buku Prophetic Leadership

by - 10/01/2016 09:16:00 AM


Oleh Bachtiar Firdaus, S.T., M.PP.


            Prophetic Leadership atau Kepemimpinan Prophetic adalah kepemimpinan yang membebaskan diri dari penghambaan manusia dan memerdekakan diri dari segala hal yang membuat kita berpaling dari penghambaan kita terhadap Allah semata.

Pemuda merupakan aset bangsa yang memiliki peran penting dalam perubahan bangsa. Sehingga pembinaan terhadap pemuda merupakan hal penting untuk dilakukan. Terlebih potensi pemuda untuk menggerak berbagai sektor merupakan hal yang luar biasa. Bisa kita lihat, berbagai industri di era sekarang di dominasi oleh pemuda, namun hanya sedikit pemuda yang memiliki visi misi besar untuk mampu mensejahterakan orang lain dan membangun Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat ke depannya.
Manusia pada dasarnya mirip dengan teori Bing Bang. Bahwa manusia yang kerdil akan tetap kerdil, namun manusia yang besar mungkin untuk melesat meraksasa. Disini, peran pemberdayaan pemuda adalah untuk mengubah manusia-manusia kerdil yang memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan dan dibina menjadi manusia-manusia raksasa yang memiliki jutaan mimpi dan harapan untuk menularkan kebaikan-kebaikan kepada orang lain.
Menurut Prof. Dr. Kuntowijoyo rahimahullah  yang berdasarkan pemahaman Al Qur’an Surat Ali-Imran ayat 110, kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membawa misi humanisasi, liberasi, dan transendensi.
1.      “Ta’muruna bil ma’ruf”, yang diartikan sebagai misi humanisasi yaitu misi yang memanusiakan manusia, mengangkat harkat hidup manusia, dan menjadikan manusia bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikerjakan.
2.      “Tanhauna‘anil Munkar ”, yang diartikan sebagai misi liberasi  yaitu misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan  dan ketertindasan.
3.      “Tu’minuna Billah”, yang diartikan sebagai misi transedensi yaitu manifestasi dari misi humanisasi dan liberasi yang diartikan sebagai kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.

Apa yang beliau ungkapkan adalah yang benar adanya. Bahwa setiap langkah yang kita lakukan hendaklah melibatkan Allah sehingga kita akan tetap teguh pada jalan dan langkah kita.
            Kepemimpinan Profetik juga memiliki titik tolak. Yang pertama adalah dimana kita selalu menyalahkan keadaan dan lingkungan atas apa yang terjadi pada diri kita. Sejatinya, ketika kita melakukan kesalahan terhadap diri kita, hal yang perlu kita lakukan adalah merefleksi apa yang telah kita lakukan bukan menyalahkan keadaan maupun lingkungan karena hal tersebut sama sekali tidak berdampak dan membawa perubahan pada diri kita.
Titik tolak yang kedua adalah kebersamaan membangun Indonesia dan mewujudkan visi yang mulia dengan orang-orang yang berbeda pandangan, komunitas dan golongan dengan kita. Hal ini dapat membuat kecenderungan pada diri kita untuk bersikap toleransi terhadap hal-hal yang agama kita ajarkan terhadap diri kita.
Titik tolak yang ketiga adalah kita membawa visi yang mulia dengan orang-orang sepihak dengan kita, namun memiliki keterbasan dalam membangun visi tersebut. Keterbasan yang paling dominan adalah finansial sehingga menghambat berjalannya misi yang telah disusun.
Namun, ketika kita membawa visi perubahan yang baik dan diniatkan karena Allah, tentunya titik tolak bukanlah sebuah rintangan untuk menghalangi terwujudnya visi yang telah kita tentukan. Selama visi tersebut mengarah pada kebikan, akan selalu ada jalan untuk melakukannya.
            Seorang pemimpin Prophetic hendaknya memiliki ilmu dalam masa kepemimpinannya. Pemimpin yang berilmu memiliki landasan kuat dan acuan yang terkontrol ketika memutuskan untuk bertindak. Sehingga hal ini akan sangat mempengaruhi sikap kepemimpinan dari orang tersebut. Apalagi selama kita memimpin kita tidak memiliki ilmu sama halnya kita mengajarkan hal-hal kosong terhadap orang-orang yang kita pimpin karena kita tidak memiliki landasan dan contoh yang baik untuk bertindak.
            Pemimpin yang memiliki jiwa Prophetic Leadership dapat dikembangkan dengan diadakannya “Ternak Pemimpin”. Seperti pada zaman kenabian dimana sebagian banyak umat adalah seorang penggembala, maka seorang pemimpin juga harus di ternak agar dapat menghasilkan lebih banyak pemimpin-pemimpin yang sesuai dengan syariat agama dan tidak mementingkan diri sendiri.

            Hal ini telah dipraktikan oleh yayasan pembinaan sumber daya manusia dengan menciptakan asrama Rumah Kepemimpinan. Disini, pemimpin-pemimpin muda diternak dengan cara dibina untuk dibentuk karakternya sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin prophetic. Dengan adanya pembinaan ini, diharapkan akan lebih banyak kader-kader pemimpin prophetic masa depan yang siap membangun bangsa dengan mengedepankan aspek rendah hati, objektif, open mind, moderat, prestatif dan kontributif.

You May Also Like

0 comments