Bedah Buku Prophetic Leadership
Oleh Bachtiar
Firdaus, S.T., M.PP.
Prophetic
Leadership atau Kepemimpinan Prophetic adalah kepemimpinan yang membebaskan
diri dari penghambaan manusia dan memerdekakan diri dari segala hal yang
membuat kita berpaling dari penghambaan kita terhadap Allah semata.
Pemuda
merupakan aset bangsa yang memiliki peran penting dalam perubahan bangsa.
Sehingga pembinaan terhadap pemuda merupakan hal penting untuk dilakukan.
Terlebih potensi pemuda untuk menggerak berbagai sektor merupakan hal yang luar
biasa. Bisa kita lihat, berbagai industri di era sekarang di dominasi oleh
pemuda, namun hanya sedikit pemuda yang memiliki visi misi besar untuk mampu
mensejahterakan orang lain dan membangun Indonesia menjadi lebih baik dan
bermartabat ke depannya.
Manusia
pada dasarnya mirip dengan teori Bing Bang. Bahwa manusia yang kerdil akan
tetap kerdil, namun manusia yang besar mungkin untuk melesat meraksasa. Disini,
peran pemberdayaan pemuda adalah untuk mengubah manusia-manusia kerdil yang
memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan dan dibina menjadi
manusia-manusia raksasa yang memiliki jutaan mimpi dan harapan untuk menularkan
kebaikan-kebaikan kepada orang lain.
Menurut
Prof. Dr. Kuntowijoyo rahimahullah yang berdasarkan pemahaman Al Qur’an Surat
Ali-Imran ayat 110, kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membawa misi
humanisasi, liberasi, dan transendensi.
1.
“Ta’muruna bil ma’ruf”, yang
diartikan sebagai misi humanisasi yaitu misi yang memanusiakan manusia,
mengangkat harkat hidup manusia, dan menjadikan manusia bertanggung jawab
terhadap apa yang telah dikerjakan.
2. “Tanhauna‘anil Munkar ”,
yang diartikan sebagai misi liberasi
yaitu misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan.
3. “Tu’minuna Billah”,
yang diartikan sebagai misi transedensi yaitu manifestasi dari misi humanisasi
dan liberasi yang diartikan sebagai kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan
hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.
Apa
yang beliau ungkapkan adalah yang benar adanya. Bahwa setiap langkah yang kita
lakukan hendaklah melibatkan Allah sehingga kita akan tetap teguh pada jalan
dan langkah kita.
Kepemimpinan
Profetik juga memiliki titik tolak. Yang pertama adalah dimana
kita selalu menyalahkan keadaan dan lingkungan atas apa yang terjadi pada diri
kita. Sejatinya, ketika kita melakukan kesalahan terhadap diri kita, hal yang
perlu kita lakukan adalah merefleksi apa yang telah kita lakukan bukan
menyalahkan keadaan maupun lingkungan karena hal tersebut sama sekali tidak
berdampak dan membawa perubahan pada diri kita.
Titik tolak yang
kedua adalah kebersamaan membangun
Indonesia dan mewujudkan visi yang mulia dengan orang-orang yang berbeda
pandangan, komunitas dan golongan dengan kita. Hal ini dapat membuat
kecenderungan pada diri kita untuk bersikap toleransi terhadap hal-hal yang
agama kita ajarkan terhadap diri kita.
Titik tolak yang
ketiga adalah kita membawa visi yang mulia dengan orang-orang
sepihak dengan kita, namun memiliki keterbasan dalam membangun visi tersebut.
Keterbasan yang paling dominan adalah finansial sehingga menghambat berjalannya
misi yang telah disusun.
Namun,
ketika kita membawa visi perubahan yang baik dan diniatkan karena Allah,
tentunya titik tolak bukanlah sebuah rintangan untuk menghalangi terwujudnya
visi yang telah kita tentukan. Selama visi tersebut mengarah pada kebikan, akan
selalu ada jalan untuk melakukannya.
Seorang pemimpin Prophetic hendaknya memiliki ilmu dalam
masa kepemimpinannya. Pemimpin yang berilmu memiliki landasan kuat dan acuan
yang terkontrol ketika memutuskan untuk bertindak. Sehingga hal ini akan sangat
mempengaruhi sikap kepemimpinan dari orang tersebut. Apalagi selama kita
memimpin kita tidak memiliki ilmu sama halnya kita mengajarkan hal-hal kosong
terhadap orang-orang yang kita pimpin karena kita tidak memiliki landasan dan
contoh yang baik untuk bertindak.
Pemimpin
yang memiliki jiwa Prophetic Leadership dapat dikembangkan dengan diadakannya “Ternak Pemimpin”.
Seperti pada zaman kenabian dimana sebagian banyak umat adalah seorang
penggembala, maka seorang pemimpin juga harus di ternak agar dapat menghasilkan
lebih banyak pemimpin-pemimpin yang sesuai dengan syariat agama dan tidak
mementingkan diri sendiri.
Hal ini telah dipraktikan oleh
yayasan pembinaan sumber daya manusia dengan menciptakan asrama Rumah
Kepemimpinan. Disini, pemimpin-pemimpin muda diternak dengan cara dibina untuk
dibentuk karakternya sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin prophetic. Dengan
adanya pembinaan ini, diharapkan akan lebih banyak kader-kader pemimpin
prophetic masa depan yang siap membangun bangsa dengan mengedepankan aspek
rendah hati, objektif, open mind, moderat, prestatif dan kontributif.
0 comments