NAPAK TILAS

by - 11/09/2011 12:05:00 AM

“Awas Sel, ada kucing!” teriakan Shofa begitu keras. Membuat panik seisi mobil.
Mendadak Sellu menginjak rem, menghentikan laju mobilnya. Mobilnyapun langsung oleng.
“Selly, loe gila ya? jantung gue mau copot tahu!” Omelku kepada Sally. Sedikit manyun.
Sorry ya Girls!” Selly menghela nafas panjang
Jantungku berdetak cepat. Kaget membayangkan hal yang tidak-tidak karena kejadian barusan.
“Eh, luhat deh girls! Pemandangan disini bagus banget. Gimana kalau kita turun, terus foto-foto disini deh. Gimana? ajakku sembari memalingkan keadaan.
Ya udah deh, yuk turun.” Ajak Tsania sembari membuka pintu mobil.
Aku, Ema, Shofa, Selly dan Tsania turun dari mobil. Ema mengambil kamera digitalnya, bersiap mengambil gambarku dan teman-temanku. Aku dan Ema memisahkan diri dari rombongan . Kami ingin mencari tempat yang cocok untuk berfoto. Kami berlarian dengan riangnya, ditambah lagi udara sejuk pegunungan seakan mengusir rasa lelah kami. Tanpa tersadar aku terpeleset, terjatuh, tergelincir menuju jurang Tubuhku terhempas, terguling- guling menuju dasar jurang

* * * * *

Saat aku membuka mata, seketika aku berubah, penampilanku berubah total. Seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Secara , aku! seorang amba yang selalu telat datang ke sekolah, jarang mengerjakan PR, kelayapan sepulang sekolah, dan langganan keluar masuk ruang BK, gara-gara rokku yang agak aku turunkan ke bawah pinggang, dan baju yang sedikit ketat. Namum sekarang aku pakai kebaya yang kuno, sama sekali nggak keren.
“Cuwik, Rama akan mengajak kita memantau rakyat yang ada di sekitar pendopo. Agar kita lebih peka terhadap rakyat. Saiki kue siap-siap ndisik, kita arep lungo. lima menit lagi. “Seseorang membunyikan lamunanku.
Seseorang yang belum pernah aku kenal sebelumnya, memakai pakaian sama sepertiku, kebaya yang klasik dan kuno.
“I... Iya!” sahutku pendek.
lalu perempuan itu kembali menutup pintu itu rapat-rapat. Pelan-pelan sekali ia menutupnya, sampai-sampai tak terdengar gesekkannya.
Dalam hatiku bertanya-tanya. Sedang berada dimana aku sekarang? Lalu Rama? siapa itu? perempuan tadi itu siapa? kemudian Ema? sedang berada dimana ia sekarang? bukankah aku pergi bersamanya? Ah Nanti sajalah aku pikirkan lagi, sekarang aku harus cepat-cepat menemui perempuan tadi. Keluar dari kamar yang luas ini, yang dikelilingi tembok-tembok besar yang nampak kokoh.
Ketika aku berjalan beberapa langkah keluar dari ruangan itu, aku melihat seseorang yang nampakkannya taka sing lagi bagiku, ya aku mengenalinya, itu Ema.
“Ema....!!!” seruku saat aku benar-benar yakin itu Ema.
“Ambar ....!!!” Ema menyahut seruanku dengan wajah senang lalu melangkah mendekatiku.
“Ema dimana kita sekarang? tanyaku cepat
“Entahlah , yang gue tahu gue disuruhseorang cewek siap-siap mau diajak Rama pergi, entah Rama siapa itu dan dia memamnggil gue. Bakmi.: terang Ema sembari mengerutkan kening.
“Y ague sama kayak loe, dia memanggil gue Cuwik, dan gue ada dalam kamar yang luas dan dikelilingi tembok yang gede.” jelasku menambahkan.
“Sekarang kita harus kemana?” Ema balik bertanya.
“Gue gak tahu. Tapi yang jelas cewek nyuruh gue nemuin Ramanya!” Jawabku singkat.
Perempuan yan tadi datang menemui kamipun datang kembali.
Lagi-lagi ia berjalan pelan sekali, sangat sopan dan anggun, sperti putri keraton solo.
“Ayo Cuwik, Bikmi adikku! Rama kaliyan ibu sampun ngentosi.” perempuan itu tersenyum tipis kepada kami.
Aku dan Ema saling bertatapan, kemudian kami mengikuti orang itu.
“Ndang cepet ta Nil, Cuwik, Bikmi. “ Lagi-lagi seorang yang belum pernah aku kenal sebelumnya menyuruh kami lebih cepat. Mungkin itu Rama yang dkatakan perempuan tadi.
Sekarang aku tahu perempuan itu bernama Trinil, kalau dia memanggilku adik berarti dia kakakku.
Kami berangkat naik andong, berenam, aku, Ema, Trinil, Rama dan wanita setengah tua, kalau dilihat usianya mirip ibuku, mungkin itu ibu yang dikatakan kak Trinil tadi, Ditambah lagi seorang kusir.
Sepanjang perjalanan aku melihat-lihat pemandangan indah sekali, sebelum terjamah seorang bisnismen yang mengubahnya menjadi pabrik-pabrik yang asapnya mengepul, merusak keindahan.
Sebaiknya kami ditempat tujuan, aku langsung bergegas turun, menghirup udara segar yang jarang aku jumpai dikota-kota besar. Udara disini membuat betah berlama-lama disini.
Kak Trinil mengajakku dan Ema berkeliling menyusuri jalan setapak perkampungan ini. Tiba-tiba mataku terbelalak melihat kepedihan yang merasa menusuk jantungku yang paling dalam. Anak-anak kecil memakai baju kusust dan kumal, mereka tidak ada yang bersekolah. Rumah mereka tidak pantas disebut rumah, gubug tua yang sudah reot, atap dari daun yang sudah bolong, dindidngnya terbuat dari kerai bambu, dan alasnya pun masih tanah, sungguh tidak pantas disebut rumah
Apalagi yang kulihat hari ini? gadis yang lebih pantas menjadi adikku sudah menikah? menikah dengan seseorang yang lebih pantas sebagai ayahnya dan gadis itu menjadi istri ke... satu, dua, ti-ga, empat! ha? istri keempatnya? Dan ia juga diperlakukan bselayaknya seorang budak. Sungguh tidak menghargai kaum peremnpauan.
Semakin aku melangkah jauh, semakin teriris hatiku, bagai tercabik-cabik. Kemiskinan menyelubungi perkampungan ini. Garais-garis kesengsaraan tergores jelas-jelas sekali.
“Kak Trinil, kenapa keadaan-keadaan rakyat gini?” tanyaku sembari mengerutkan kening. Terlampau pilu hatiku.
“Hus! sampean itu ngomong apa La? sampeyan kuwi seharusnya ngundang aku mbak, bicaramu itu lho sing sopan, aja seperti mau sing santun.” Mbak Trinil menasehatiku dengan suara lirih, lembut.
“Eh, sorry! maksudku mbak. Kenapa rakyat begitu menderita seperti ini mbak?” aku meralat cepat dan mengulang pertanyaan ku yang belum sempat dijawab oleh Mbak Trinil, dan aku juga mnengubah basaku menjadi lebih santun.
“Sampeyan kuwi ngomong apa ta Wik? nganggo kat sorry juga ya memang seperti saiki, kehidupan, kehidupan rakyat VOC merampas segalanya, harta benda, kebahagiaan kabeh dirampas. Saiki kita harus berjuang agar rakyat podo melu bahagia ora mung sengsoro.” Mbak Trinil menerangkan penjabaran dengan pelan-pelan ra menutorkan.
“Maksud mbak bagaimana? “ aku meminta penjelasan kepada Mbak Trinil. belum paham, kali ini aku lebih memperhalus kata-kataku.
“Wik, negara kita harus merdeka, negara kita tseh dijajah, kita kudu mengubahnya, berjuang agar perempuan lebih dihargai dan dihormati Mbak Trinil menjelaskan.
“Jadi negar kita belum merdeka? Ema yang dari tadi hanya mendengarkan pun ikut melontarkan pertanyaan.
“Iya adikku Bikmi, saiki kita temui Rama, Rama akan marah jika tidak cepet-cepet mbalek.” Mbak Trinil mengajak kami kembali. Lgi-lagi ta berjalan pelaq sekali.

* * * * *

Setibanya kami di rumah, aku juga banyak menemukan hal-hal yang mengganjal, adapt istiadat yang begitu kental. apabila seseorang yang lebih tua berjalan di depan kita dan kita duduk di atas kursi kita harus turun duduk di bawah menundukkan kepala sampai seseorang tadi tak terlihat lagi.
Semakin lama aku tinggal disini aku makin memahami kehidupan yang ada disini. Mbak Trinil, Seekor burung Trinil yang lincah mudah bergaul dan cerdas tapi kini sangkar emas telah mengurungnya merenggut kebebasannya ia tak berani melqanggar adat ia tak juga berani menentang Ramanya tapi dari sinilah kartini si burung trinil mulai berjuang meraih keinginannya mengangkat derajat perempuan.
Walaupun Mbak Kartini sekarang dipingit, ia dipingit dalam masamudaya tapi ia masih bisa berkirim surat dengan teman-temannya nyoya Abendanon, Stela dan yang lainnya. Keinginannya untuk bersekolah pupus sudah namun semangatnya tidak padam terus menyala-nyala bak api yang berkorban melahap apa yang ada.
Namun, Rama tak tega melihat burung trinilnya tersiksa sendirian di dalam sangkar emas dan hanya menunggu pinangan seorang laki-laki yang akan menjemputnya. Kartini gemar sekali membaca dan rama memahami betul keinginan anak gadisnya itu. Rama dan Mas Sasro Kartono selalu memberikan bacaan-bacaan kepada Mbak Trinil, majalah, surat kabar, jurnal-jurnal sedikit mengurangi rasa sepinya dan sahabat penanya yang selalu mengirim surat kepadanya.
Tak tega aku melihat Mbak Trinil, Mbak Trinil yang lincah dan rajin serta cerdas kini langkahnya pupus tapi aku yakin Mbak Trinil dapat berhasil karena kegigihannya
“Rama bolehkan aku mendirikan sekolah?” kartini meminta ijin kepada Rama berharap Rama menuruti keinginannya.
“Maksudmu sekolah apa nil? Rama balik bertanya, belum begitu memahami maksud burung Trinilnya itu.
“Maksudku sekolah untuk perempuan Rama Agar mereka juga bisa ikut belajar mengenyam pendidikan agar derajat perempuan lebih terangkat tidak terus-menerus diperbudak oleh laki-laki.” jelas Kartini kepada Rama pelan sekali perkataanya sangat sopan.
“Nil adapt kita tidak memperbolehkan perempuan untuk bersekolah, Rama tidak berani melanggar adat terlalu jauh Nil.” Rama menolak halus,sebenarnya kalau di perhatikan Rama ingin sekali menuruti permintaan putrinya itu.
”Tapi Rama,Trinil kepingin perempuan juga dapat merasakan bangku sekolah,seperti halnya tiang jale,Trinil mohon Rama!’Mbak Trinil terus mendesak Rama. Berharap permohonannya kali ini dikabulkan oleh Rama.
Aku yang dari tadi duduk melantai dibelakang Mbak Trinil bersama Ema-pun ingin sekali ikut memohon kepada Rama. Raut wajah Mbak Trinil melukiskan ketulusan yang mendalam,perubahan kan perempuan.
*****
Hari ini sepertinya Rama kedatangan tamu. Meski Rama sering kedatangan tamu,tapi rasanya tamu kali ini lain. Ternyata dugaanku benar beliau adalah seorang Bupati Rembang, beliau datang untuk meminang Mbak Trinil.
Dengan setengah hati Mbak Trinil menerima pinangan itu,karena tidak ingin mengecewakan Rama yang selama ini sudah begitu baik padanya. Apalagi mencintainya orang tersebut,ia saja belum kenal betul dengan orang tesebut.
*****
Sekarang Mbak Trinil sudah menikah. Usia kandungannya sudah tua,namun kandungannya lemah. Kendati demikian,Mbak Trinil masih menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak didiknya yang berada di sekolah perempuan untuk pertama kalinya.
Akupun juga ambil bagian dalam urusan ini, ilmu yang kudapat dari bangku sekolah. Ilmu yang sangat dibutuhkan disini. Walau aku sering mengabaikan pelajaran di sekolah karena terkesan membosankan dan nggak asyik.
Setelah sahabat pena Mbak Trinil dari Belanda pun juga sering kesini, untuk melihat perkembangan sekolah perempuan Mbak Trinil.
Tapi disini,aku banyak menemukan perubahan-perubahan pada diriku,menjadi diriku yang sekarang.
Selang beberapa bulan,Mbak Trinil melahirkan seorang anak laki-laki. Kemudian selang beberapa hari beliau wafat karena kandungannya lemah. Aku sangat sedih. Aku ,merasa sudah sangat dekat dengan Mbak Trinil,walaupun sebenarnya aku masih menyimpan banyak pertanyaan, mengapa aku bisa kenal dengan Mbak Trinil?
Stella sahabat Mbak Trinilpun juga merasa sangat kehilangan. Ia kemudian membukukan surat-surat yang saling mereka kirimkan kepadanya. Yang ia beri judul ”Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Aku menangis sedu sedan. Aku menutup pinyu kamarku rapat-rapat,berbaring diatas tempat tidur dengan diiringi isak tangis. Ruangan tempat dimana pertanma kali aku bersua dengan Mbak Trinil, yanmg menjadi ruangan kamarku,kemudian aku memejamkan mata membayangkan saat-saat aku bersama Mbak Trinil.
******
Ketika aku membuka mata aku seperti berada di salah satu ruangan rumah sakit,dengan tangan di infus.
”Ambar...loe sudah siuman,syukurlah.”senyuman Shofa terlintas dihadapanku ketika aku membuka mata.
”Eh,lihat deh,Ema juga sudah siuman.”seruan Tsania terhadap Shofa.
Loe nggak apa-apa kan?loe itu pingsan dua jam.Kami tuh khawatir tau.”Shofa mulai melontarkan pertanyaan.
”Kapan-kapan deh aku jelasin semua.”aku menjawab pendek.Lemah.
Selang beberapa hari aku dan Ema menceritakan apa yang kami alami kepada Selly,Shofa,dan Tsania.Meski tidak masuk akal,namun kejadian itu serasa nyata bagiku.
Kini aku bukan Ambar yang dulu lagi,Ambar yang sering telat,yang sering melanggar peraturan dan yang lain lah.Kini aku sudah berubah,aku ingin meneruskan cita-cita Kartini,kalau perempuan juga bisa bersekolah sama derajatnya sama laki-laki.
Terima kasih Kartini.”Habis Gelap Terbitlah Terang”.

You May Also Like

0 comments