Maafkan Aku Aisyah

by - 11/08/2011 11:44:00 PM

“Idih bau banget sih, bau apa sih ini ? perasaan dari tadi kita di sini nggak ada deh bau nggak enak gini?”
Dari kejahuan, aku sudah melihat Aisyah berjalan pelan, menuju ruang kelas. Adapun sudah mulai menambuhkan gendering perang kepadanya.
“Iya nih, bau banget deh namanya juga anaknya orang miskin, mau gimana lagi, mana mampu dia beli parfum? hahaha.” Ujar Tasya menambahkan.
“Sudah deh Guys kasihann kan Aisyah, rambutnya aja sampai kumal begitu, gara-gara mikirin ejekan kalian.”
Bukannya membantu Sasa malah malah memperpedas oloka kami sebelumnya. Dia ka satu komplotan denganku. Lolita, Tasya, dan Sasa , trio cewek yang suka ngusir, onar, dan pastinya suka ngerjain orang. Ya salah satunya Aisyah ini. Orang miskin yang asik diolok-olok.
Kendati demikian, Aisyahpun seolah tak mendengarkan olokan kami. Ia masih santai saja berjalan, seolah tiada siapapun yang mengganggu dirinya.
Aduh …!
Sakit sekali kelihatannya, Aisyah malang tersungkur jatuh. Sungguh nakalnya aku, ia jatuh karena aku jagal, tepat ketika ia akan memasuki ruangan kelas.
Bergegas ia lalu bangun. Meskipun sedikit tersuruk –suruk, namun ia tetap tak menggubris kami.
Aku, Sasa dan Tasyapun berseru senang. Menang tertawa terbahak, tanpa menyadari akibat dari perbuatan kami tersebut.
Kami bertiga yang sejak dari tadi berdiri di depan kelaspun berebut masuk. Bu Ani, guru pertama yang mengajar di kelas kami pun sudah berjalan menuju kelas kami. Bel memang sudah dibunyikan sejak tadi, tetapi kami sengaja tidak masuk terlebih dahulu. Mau menunggu Aisyah untuk apa lagi kalau tidak memperoloknya.

* * *
Teng…. Teng…. Teng….
Saatnya istirahat, setelah merapikan buku-bukunya Aisyah lalu bergegas menuju kantin. Ia hendak mengambil uang setoran kue yang setiap harinya ia titipkan kepada ibu kantin.
Aku, Tasya dan Sasapun juga tidak kalah gesit darinya, secepat kilat kamipun mengikutinya. Kami berniat mengganggu dan mengusilinya.
Kami memang lebih senang mengganggu Aisyah, dia tidak pernah mengeluh, apalagi mengadu. Tidak seperti yang lain.
Aisyah nampaknya tidak sadar kalau kami ikuti. Dan ketika ia menoleh ke belakang, kamipun bergegas bersembunyi dan cepat-cepat membuka pintu gudang dan masuk ke dalamnya. Kebetulan gudang sekolah kami berada disitu. Sejalan dengan kantin.
Aku menoleh ke belakang berjalan lebih dalam lagi menyusuri ruangan gudang tersebut, dan ketika aku menoleh kea rah teman-temanku, mereka sudah tidak ada kemudian aku berlari menuju pintu gudang tersebut. pintunya tertutup terkunci.
“Tolong …Tolong …Tolong bukaka pintunya …Tolong …!”
Aku berteriak sembari menggedor-gedorkan pintu tersebut. Namun, tidak ada respon sama sekali.
Aku menangis. Takut. Aku paling takut sendirian, tapi menangis tidak menyelesaikan masalah. Aku menyeka air mataku dengan telapak tanganku, kemudia aku mulai melangkahkan kakiku. Kembali menyusuri ruangan gudang. Barangkali menemukan jalan keluar.
Tiba-tiba ….
Kresh …Aaaa
Kaki kiriku menginjak sesuatu, aku ketakutan setengah mati. Aku benar-benar takut, jantungku seakan copot. Nafasku terengah-engah tidak karuan. Tubuhku langsung lemas – mematung. Aku menggigit bibirku keras-keras.
Au …Sakit!
Setelah agak tenang, perlahan aku mengangkat kaki kiriku.
“Huh …ternyata potongan kayu yang sudah rapuh”.
Kini, aku bisa bernafas lega, sedikit mengobati rasa takutku. Kemusian aku melanjutkan langkahku.
Dari balik pintu, aku melihat cahaya terang mungkin itu jalan keluar. Aku bergegas lari menuju pintu tersebut. Lalu membukanya.
Tapi, ada cahaya silau dibalik pintu tersebut, silau sekali … dan aku melangkah masuk kedalamnya.
* * *
Kesilauan itu lama-lama memudar. Aku melihat lorong kelas, itu kelasku. Pintunya tertutup, hah. Pasti jam pelajaran sudah dimulai.
“Aduh bisa kena marah aku kalau sampai terlambat. Kalau malu jadinya kalau harus berdiri sampai pelajaran usai.” Gumamku.
Sekarang aku berada tepat didepan pintu kelas. Rasa ragu-ragu menyeruak menyelubungi benakku.
“Diketok, enggak, diketok, enggak, diketok, enggak aduh gimana ini, kalau nggak ikut pelajaran, nanti … huh!” aku merasa ragu akan diriku, sembari menghitung jemari tanganku.
“Hm … ya sudah deh, daripada di luar sendirian.” kini aku memberanikan diri mengetuk pintu, walau setengah ragu.
ketika tanganku kuketukan ke pintu, ternyata tanganku menembus pintu, dan ketika aku ingin membuka handle pintu aku juga tidak menggenggamnya. Aku mencoba berkali-kali, terus mencoba, dan mencoba, tetapi, tetap saja tidak bisa.
“Huh ….ya sudahlah, kan aku gak perlu lagi repot-repot buka pintu, bisa tinggal masuk aja!” aku menanggapinya enteng tidak memikirkan yang macam-macam.
Aku langsung nyelonong begitu saja masuk. Asyik juga rasanya dapat menembus pintu. Aku berjalan sembari menundukkan kepala, takut kalau-kalau guru yang sekarang mengajar memarahiku.
Aku lalu mengangkat kepala, ingin meminta izin bahwa aku sudah terlambat. Ha? Pak Umar ? Bukankah guru berikutnya setelah istirahat Bu Anif? kemudian aku menoleh kearah teman-temanku. Lho …? tiba-tiba aku termangu, terdiam, bingung.
“itukan aku?”
Aku melihat diriku sedang duduk, dan asyik bercanda dengan teman sebangkuku, Sasa. Sedangkan teman-temanku sibuk mengerjakan sesuatu, entah apalah itu.
Aku berada diantara perasaan percaya dan tidak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku bisa menembus pintu? Aku bisa melihat diriku sendiri? sungguh diluar nalar.
Kemudian aku melihat ke arah papa tulis.
“Bukankan itu pelajaran kemarin? Bukankan setelah ini Pak Umar akan membentakku?”
“Lolita …!” bentak Pak Umar dengan nada tinggi.
Ternyata benar, aku kembali kehari kemarin. tapi kenapa bisa seperti ini?
Teng …Teng … Teng ….
Pulang …Teman-temanku mulai membereskan alat tulis mereka. Lalu bagaimana dengan aku? Aku harus kemana? Lebih baik, aku mengikuti Aisyah saja. Bukankah aku tidak pernah tahu dimana rumah Aisyah?
Sudah dua tahun sku berteman dengan Aisyah Tapi, sekalipun aku belum pernah berkunjung ke rumahnya. Mungkin kali ini akan jadi kunjungan pertamaku kerumahnya.
* * *
Aku berjalan dengan beriringan dengan Aisyah. Tapi Aisyah tidak dapat melihatku, aku orang, tapi bukan orang? tapi … ah entahlah.
“ Kenapasih Aisyah harus lewat jalan, kawasan kumuh begini, bau banget lagi “gerutuku sembari menutupi hidungku dengan tanganku.
Aisyah berjalan melewati kawasan kumuh, dekat dengan tempat pembuangan sampah. Mungkin rumah Aisyah berada dikawasan ini.
Sepertinya dugaanku benar, itu rumah Aisyah. Ia masuk ke dalamnya, rumah beralas, dinding dan beratapkan kardus bekas. Entah bagaimana ia bisa bertahan hidup di dalamnya. “Ternyata, Aisyah memang benar-benar orang miskin”
Lho? tetapi kenapa Aisyah tidak bertingkah laku seperti halnya pemilik rumah? Ia duduk dengan sopan disudut ruangan itu hanya ada dua ruangan dalam rumah itu, ruang kamar sekaligus ruang tamu dan dapur, kemudan seorang nenek denan terbatuk-batuk keluar dari dapaurnya.
“Ini nek, uangnya tadi Aisyah dapat bonus dari ibu kantin, katanya kuenya enak Nek” Aisyah mengulurkan tangannya, sembari memberikan uangnya kepada Nenek tersebut
Nenek itu meraih uangitu dari tangan Aisyah, sembari tersenyum.
“Terima kasih ya Nek, kamu memang anak yang baik. Besok kuenya banyakan sedikit ya, tetangga nenek juga mau nitip.”
“Ha? Nitip kue? jadi kue itu bukan gadangannya Aisyah. Tapi milik nenek ini? sungguh mulia hati Aisyah, dia mau membantu orang lain.
“Nggak pa-pa kok Nek, Aisyah pamit pulang dulu ya.”
Aisyah kemudian keluar dari rumah tersebut. Aku pun kembali mengintil di belakangnya.
dari pemukiman kumuh tersebut, Aisyah kemudian berbelok ke arah perumahan elit di kawasan tersebut, dan ia berhenti di depan sebuah rumah yang sangat mewah, dan …. waw….. seperti istana saja.
Ting … Tung…. Ting … Tung….
Aisyah menekan bel rumah tersebut, kemudian wanita setengah tua dari dalam rumah berlari membukakan gerbang untuk Aisyah.
“Terima kasih ya Bu” kemudian Aisyah berlalu meninggalkan wanita tersebut.
tapi kenapa dia memanggil Bi? Bi berarti bibi, apa .. itu pembantunya Aisyah? Ah tidak mungkin, Aisyah kan orang miskin. Mungkin malah Aisyah yang menjadi pembantu dirumah megah ini.
Teras di depan rumah itu luas sekali, taman bunga yang indah, dan semuanya serba indah. Harus berjalan kurang lebih seratus meter untuk sampai depan rumah tersebut.
Aku tidak perlu menunggu Aisyah membuka pintu terlalu lama, kan aku bisa menembus pintu
“Wow … rumah ini bagaikan istana.”
Aku dibuat ternganga melihatnya, bagian depannya saja sudah semewah ini, rumahku tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.
Aisyah berlalu saja tanpa memperdulikan betapa mewahnya ruangan tersebut, ia lantas menaiki tangga, menuju lantai dua, ia lalu masuk kesebuah kamar. Akupun Ngintil, begitu saja dengannya.
Pintu kamar tersebut tertera tulisan “KAMAR AISYAH”, jadi ini kamar Aisyah, kalau ini kamarnya, berarti rumah ini milik Aisyah? Aisyah penjual kue? mana mungkin, dia kan masuk sekolah dengan beasiswa, tidak mungkin orang kaya sepertinya menggunakan beasiswa.
Tapi cukup masuk akal juga, memang sih selama ini, barang-barang yang dimiliki Aisyah bermerek terkenal, apalagi pakaian yang ia kenakan. Bahkan mamapun melarangku untuk membelinya, terlalu mahal katanya.
Sekarang aku masuk ke kamar Aisyah, sungguh indah kamar Aisyah, berjajar rapi koleksi boneka barbienya, berbagai macam tipe dan model, satupun aku tidak punya. Aku menoleh kesudut ruangan, inikah sepatu Aisyah? banyak sekali …. ingin sekali aku memilikinya.
Tetapi, mengapa Aisyah tidak pernah memakainya ke sekolah? malahan yang dipakai hanya sepatu bututnya yang sudah sobek disana-sini, yang membuatku senang memperolok-oloknya.
Sementara Aisyah beristirahat, aku berjalan-jalan mengelilingi rumah Aisyah, sungguh sangat menakjubkan. Akan bangga rasanya kalau aku bisa tinggal disini.
Seketika aku terkejut, inikah garasi milik Aisyah? mobilnya banyak sekali, berbagai macam merek dan …ah, susah untuk menjelaskannya, semuanya terlihat menakjubkan.
Tetapi kenapa Aisyah harus berjalan kaki kalau pergi ke sekolah? Bukankah akan lebih nyaman menaiki mobil-mobil ini? Sungguh aku iri dengan Aisyah, aku sungguh-sungguh iri kepadanya, aku cemburu melihatnya. Yang selama ini kutafsirkan tentang Aisyah sungguh berbeda, benar-benar berbeda. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan Aisyah
Aisyah begitu rendah hati, tidak pernah sedikitpun memamerkan barang-barang miliknya, sedangkan aku punya sepatu baru saja, satu sekolah seakan harus tahu.
Sungguh malunya aku, malu sekali kalau mengenangnya. Maafkan aku Aisyah, aku sudah angkuh kepadamu, aku sudah jahat kepadamu, aku malu Aisyah, aku salah Aisyah. Aku menangis sedu sedan, aku malu akan perbuatanku. terimakasih Aisyah, kau mengajarkanku rendah diri, kau mengajarkanku untuk lebih menghargai orang lain, kau mengajarkanku untuk jujur. Selama ini aku membohongi diriku sendiri, aku mendustai diriku sendiri. Aku … aku sungguh-sungguh malu.
Ketika aku menoleh lagi, aku melihat potret Aisyah dan keluarganya, mungkin itu mama dan papanya. Aku benar-benar yakin kalau ini memang rumah Aisyah.
Aku piker Aisyah anak orang miskin dan barang-barangnya itu pemberian dari orang kaya yang baik hati yang mau memberinya.
* * *
Aku lelah hari ini, aku ingin istirahat, aku ingin tidur bersama Aisyah. Berdampingan dengan Aisyah.
* * *
“Loh …bangun, bangun Lolita!”
Suara itu terdengar jelas, tetapi cukup aku cukup sukar untuk membuka mataku, rasanya seperti mengantuk, tapi tidak mengantuk, ah … entahlah itu.
Aku terbaring lemah, di atas tempat tidur. Benar ini memang tempat tidur, tepatnya di ruang UKS milik sekolahku, dengan cepat aku menyadarinya.
“ Kenapa aku ada di sini?” aku mulai melontarkan pertanyaan.
“Kamu tadi pingsan, itu gara-gara kejedot pintu gudang waktu kita mau ngumpet, takut ketahuan sama Aisyah.” Sasa menjelaskan
“Sekarang dimana Aisyah?”
“Dikelas”
Aku bergegas turun dari tempat tidur, aku hendak menemui Aisyah. Aku ingin meminta maaf.
* * *
“Aisyah … maafin aku ya!” sesampainya dikelas aku langsung menarik tangan Aisyah. Memohon agar Aisyah mau memaafkanku.
“kamu nggak perlu minta maaf kok, aku juga sudah maafin” Aisyah dengan rendah hati tersenyum, manis sekali kelihatannya.

* * *
Aku, Sasa, dan Tasya sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, kami sudah meminta maaf kepada Aisyah. Sekarang aku tahu banyak tentang Aisyah, Sahabatnya reuni menceritakan semuannya. Orang tua Aisyah bekerja diluar negeri, ia hanya tinggal berdua dengan pembantunya.
Kebanyakan anak mungkin akan merasa Drop karena kehilangan kasih sayang dari orang tua, tapi beda dengan Aisyah, ia belajar bersungguh-sungguh sampai seperti ini, ia mendapatkan beasiswa. Ia tidak ingin kerja keras orang tuanya tidak sia-sia.
Dan masalah kue itu. hm….ajadi malu untuk menceritakannya. Ia hanya membantu seorangnenek tua yang biasa menjual kue berkeliling didepan rumahnya namun nenek itu sering kelelahan. Jadi Aisyah membantunya menjualkan kue itu ke sekolah.
Aku belajar banyak dari Aisyah, arti sebuah kesederhanaan, rendah diri dan tidak mendustai diri sendiri.
Kalau memang kita miskin, ya … mau diapakan lagi? tidak usah malu. Tapi walau kita mempunyai harta lebih tidak usah begitu dipamerkan juga, kita harus bersikap apa adanya, lebih baik jujur saja dengan keadaan.

You May Also Like

0 comments