Kapan Aku Mati?

Hari Kamis, 19 Januari 2017 kelompok KIP ku (Kajian Islam Pekanan atau yang sering disebut Liqo') mengunjungi Masjid Jogokariyan. Ini untuk pertama kalinya kami mendatangi masjid ini. Masjid yang katanya terkenal karena pengelolaan dari takmir yang begitu luar biasa. Dengar-dengar, masjid ini mendatangi satu persatu warga untuk presensi salat jamaah, supaya warga tertarik untuk datang ke masjid. Ada juga program-program mandiri masjid yang menarik seperti penyewaan penginapan, asuransi, arisan, wifi gratis di masjid dan masih banyak lagi. Memang, program-program seperti ini merupakan program umum, tapi masjid loh men yang mengelola? Keren kan!
.
Selama KIP berlangsung, banyak topik diskusi menarik. Tapi ada satu hal yang sukses membuatku merenung teramat dalam. Kata Kak Tika, pemandu KIPku, keadaan orang saat meninggal itu biasanya sesuai dengan kebiasan yang kita lakukan sehari-hari. Ada yang meninggal saat salat di masjid, ada yang meninggal saat hubungan terlarang, ada yang kecelakaan, ada yang sedang dugem dan masih banyak lagi. Terus, Emma nanti kalau meninggal gimana ya?
.
Hm... aku jadi merenung sangat lama. Rosyda dan Ani, teman asramaku yang rasanya setiap saat aku mendengar mereka sedang ngaji. si A yang salatnya rajin sekali, si B yang puasanya sangat istiqomah, dan masih banyak lagi. Nah, kalau aku, kebiasaanku apa ya? Kan nggak lucu meninggal saat chattingan, nonton drama korea, dan hal remeh temeh lainnya.
.
Hidup itu seperti menunggu bus di halte. Kita adalah orang-orang yang sedang menunggu giliran kematian. Kita tidak akan tahu, kapan bus-bus (izrail) itu siap untuk menghampiri kita. Entah dalam keadaan siap, atau justru masih sibuk mencari-cari amal untuk tempat tujuan kelak.
.
Nah, dari sini aku jadi merenungkan probabilitas terbesar dimana sewaktu-waktu izrail dengan senang hati mencabut nyawaku. Jalan! iya jalanan. Aku tidak pernah tahu kapan dan bagaimana aku meninggal, tapi dari kegiatanku sehari-hari jalanan merupakan kemungkinan terbesar tempat meninggalku kelak. Entah karena kecelakaan, atau sebab-sebab lain. Lalu aku merenung... Selama ini, kalau aku berkendara rasanya ngawur, ugal-ugalan, serobot sana-sini, tapi kok aman-aman aja ya? Sedangkan teman-temanku yang mungkin jauh lebih hati-hati dariku, justru sudah pernah mengalami kecelakaan di jalan.
.
Kata guruku di SMA, jalan raya itu seperti takdir kita. Sedangkan motor adalah ruang kendali kita. Entah kita memilih untuk selamat, atau justru dalam bahaya adalah kuasa penuh dari kendali motor kita. Nah, saat di jalan, biasanya kita nyanyi-nyanyi nggak jelas. Kan nggak berkah kalau tiba-tiba kecelakaan sambil nyanyi? Mending sepanjang jalan digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti muraja'ah atau dzikir. Semenjak saat aku, aku jadi mengubah total kebiasaanku di jalan. Walau masih serobat-serobot, setidaknya jalanan adalah media terbaikku saat ini untuk muraja'ah dan dzikir. Aku jadi berpikir, kenapa Allah selama ini masih memberiku keselamatan. Bukan karena perhitungan s = v x t ku yang tepat saat akan menyalip, probabilitas kecepatan dan lain-lain di jalanan, tapi mungkin dari doa-doa yang selalu aku panjatkan sepanjang jalan. Jadi setidaknya, jika sewaktu-waktu izrail menjemputku di perjalananku, aku mati dalam keadaan berdzikir.
.
Tapi, iya kalau aku meninggalnya saat di jalan? kalau di tempat lain? Kebiasaan apa ya, yang bisa membuatku khusnul khotimah nanti? Hm... Sepertinya aku harus menambah tilawah, salat sunnah dan amal-amalan lainnya. Atau setidaknya dari hal terkecil yang bisa aku lakukan adalah meniatkan segala sesuatu untuk ibadah dan memulai segalanya dengan niat ibadah. Jadi, jika sewaktu-waktu dan dalam keadaan apapun Izrail meminang nyawaku, aku masih dalam niat dan keadaan beribadah.
.
Semoga kelak, di obituariumku, semua orang dengan senang hati membaca...
Emma Afifah, pada tanggal sekian tahun sekian, meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, saat sedang sujud di 1/3 malam terakhirnya. Aamiin.
0 comments